Tuesday, April 29, 2014

STRATEGI BAURAN PEMASARAN TERHADAP VOLUME PENJUALAN PADA PT.SEMEN TONASA Oleh: Harjoni Desky


PENDAHULUAN
Pemasaran merupakan salah satu kegiatan yang sangat penting dalam dunia usaha. Pada kondisi usaha seperti sekarang ini, pemasaran merupakan sarana pendorong untuk meningkatkan penjualan sehingga tujuan perusahaan dapat tercapai. Pengetahuan mengenai pemasaran menjadi penting bagi perusahaan pada saat dihadapkan pada beberapa permasalahan, seperti menurunnya pendapatan perusahaan yang disebabkan oleh menurunnya daya beli konsumen terhadap suatu produk sehingga mengakabatkan melambatnya pertumbuhan perusahaan.
Sehubungan dengan permasalahan di atas, terkait dengan pemasaran, diperlukan suatu kemampuan untuk berpandangan ke depan dalam mengarahkan dan mengambil tindakan pemasaran untuk mencapai tujuan perusahaan. Itu adalah hal yang sulit dicapai oleh perusahaan, oleh sebab itu dalam hal ini dibutuhkan kesadaran dan inisiatif yang tinggi dalam mempelajari serta menguasai hal-hal yang berkaitan dengan pentingnya kegiatan pemasaran. Oleh karena itu dalam melaksanakan aktivitas pemasaran, setiap perusahaan berupaya untuk menetapkan strategi pemasaran dan target market-nya.
Strategi pemasaran tersebut adalah Strategi tentang Marketing Mix yang dimulai sejak memproduksi suatu produk sampai produk tersebut diterima oleh pelanggan. Semua aktivitas yang dilakukan di bidang pemasaran ditujukan untuk menentukan produk, pasar, harga, promosi dan distribusi. Bauran pemasaran adalah seperangkat alat pemasaran yang digunakan perusahaan untuk mencapai tujuan pemasarannya dalam pasar sasarannya. Dimana dari keempat variabel tersebut, seperti : produk, harga, distribusi dan promosi saling berhubungan di mana masing-masing elemen di dalamnya saling mempengaruhi.
Kegiatan-kegiatan ini perlu dikontribusikan secara efektif dan efisien sehingga perusahaan tidak hanya memilih kombinasi yang baik saja, tetapi juga harus mengoordinasikan berbagai macam elemen dari bauran pemasaran tersebut untuk melaksanakan program pemasaran. Berkaitan dengan uraian tersebut di atas maka objek dalam pembahasan dalam artikel singkat ini adalah perusahaan PT. Semen Tonasa, dimana untuk mengantisipasi persaingan yang semakin ketat dengan perusahaan semen lainnya serta untuk lebih meningkatkan volume penjualan, maka perusahaan perlu menggunakan program pemasaran atau strategi yang ampuh untuk meningkatkan penjualan semen.
Salah satu strategi yang diterapkan oleh perusahaan dalam meningkatkan penjualan semen adalah dengan menerapkan strategi bauran pemasaran. Bauran pemasaran adalah pedoman yang digunakan oleh perusahaan untuk meningkatkan penjualan, dimana didalamnya terdiri dari : strategi produk yang dihasilkan, strategi harga yang bersaing, strategi promosi yang dilakkukan serta strategi saluran distribusi yang digunakan. Keempat variabel dari strategi pemasaran berpengaruh terhadap peningkatan volume penjualan perusahaan.
PEMBAHASAN
Pengaruh Strategi Bauran Pemasaran yang Dilakukan PT. Semen Tonasa
Pelaksanaan pengelolaan unit usaha produksi semen diarahkan untuk dapat meningkatkan kinerja penjualan, yang berfungsi untuk menunjang kontinuitas dari suatu perusahaan. Dalam pencapaian tujuan dan sasaran perusahaan maka perlu adanya upaya dalam meningkatkan penjualan semen guna dapat memperoleh laba yang optimal. Salah satu cara yang dilakukan oleh perusahaan dalam meningkatkan volume penjualan adalah menerapkan strategi bauran pemasaran. Dimana tujuan dengan penerapan strategi bauran pemasaran adalah untuk dapat meningkatkan volume penjualan, oleh karena itulah dalam penerapan strategi bauran pemasaran maka strategi bauran pemasaran yang digunakan oleh perusahaan adalah meliputi : produk, harga, promosi, dan saluran distribusi.
PT. Semen Tonasa (Persero) adalah perusahaan yang bergerak di bidang produksi semen, dimana dalam melaksanakan aktivitasnya sebagai industri semen maka perusahaan ini perlu melakukan evaluasi terhadap perkembangan penjualan, yang bertujuan untuk mengetahui peningkatan (penurunan) dalam penjualan. Sebelum dilakukan penilaian mengenai perkembangan penjualan maka terlebih dahulu akan disajikan data penjualan semen yakni dari tahun 2003 s/d tahun 2012 yang dapat dilihat melalui tabel I yaitu sebagai berikut :






Tabel I. Volume Penjualan Semen Pada PT. Semen Tonasa Tahun 2003 – 2012
Tahun
Jenis/ukuran Semen
Total Penjualan
(Zak)
40 kg
50 kg
2003
1.982.250
-
1.982.250
2004
2.045.600
-
2.045.600
2005
2.671.200
-
2.671.200
2006
3.056.750
-
3.056.750
2007
2.396.875
1.281.250
3.678.125
2008
2.554.705
1.571.845
4.126.550
2009
3.384.432
1.672.350
5.056.782
2010
3.977.752
2.090.140
6.067.892
2011
4.836.600
2.245.600
7.082.200
2012
5.301.050
2.781.300
8.082.350
Rata-rata
3.220.721
1.164.249
4.384.970
Sumber : PT. Semen Tonasa di Kabupaten Pangkep
Berdasarkan tabel I yaitu data volume penjualan semen, khususnya untuk tahun 2003 – 2012 yang menunjukkan bahwa rata-rata penjualan semen pertahun sebesar 4.384.970 zak. Hal ini dapat dirincikan bahwa rata-rata penjualan semen pertahun untuk ukuran 40 kg sebesar 3.220.721 zak sedangkan ukuran 50 kg sebesar 1.164.249 zak. Selanjutnya dilihat dari pertumbuhan penjualan semen terlihat bahwa dari tahun ketahun mengalami peningkatan, dapat dilihat pada perkembangan penjualan semen untuk tahun 2003 s.d tahun 2012 yang dapat dilihat melalui tabel II yaitu sebagai berikut :
Tabel II. Perkembangan Volume Penjualan Semen Pada PT. Semen Tonasa
Tahun 2003 s.d Tahun 2012

Tahun
Volume Penjualan Semen (Zak)
Pertumbuhan Penjualan
Zak
%
2003
1.982.250
0
0
2004
2.045.600
63.350
3,20
2005
2.671.200
625.600
30,58
2006
3.056.750
385.550
14,43
2007
3.678.125
621.375
20,33
2008
4.126.550
448.425
12,19
2009
5.056.782
930.232
22,54
2010
6.067.892
1.011.110
20,00
2011
7.082.200
1.014.308
16,72
2012
8.082.350
1.000.150
14,12
Rata-rata
677.789
17,21
Sumber : Hasil olahan data

Berdasarkan tabel II yaitu perkembangan penjualan semen untuk tahun              2003 – 2012 maka dalam 10 tahun terakhir volume penjualan semen mengalami peningkatan, dimana rata-rata kenaikan volume penjualan semen pertahun sebesar 677.789 zak atau sebesar 17,21%. Faktor yang menyebabkan peningkatan volume penjualan semen adalah disebabkan karena penerapan strategi pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan telah dilakukan secara tepat. Penerapan strategi bauran pemasaran yang dilakukan oleh perusahaan PT. Semen Tonasa di Kabupaten Pangkep dari tahun 2003 – 2012 yang dapat diuraikan sebagai berikut :
1.      Produk
Strategi produk dalam penjualan adalah faktor yang penting bagi setiap perusahaan. Dengan penerapan strategi produk, akan dapat mempengaruhi penjualan, strategi produk yang dilakukan oleh PT. Semen Tonasa di Kabupaten Pangkep dalam pemasaran semen adalah menekankan pada mutu kualitas semen yang diproduksi. Sehingga dalam meningkatkan volume penjualan semen maka perusahaan menjual semen dengan berbagai jenis ukuran yaitu ukuran 40 kg dan ukuran 50 kg, yang     dapat diuraikan sebagai berikut :
a.       Tahun 2003 - 2006
Dalam pemasaran semen maka jenis/ukuran semen yang dijual oleh perusahaan selama tahun 2003 - 2006 adalah ukuran 40 kg.
b.      Tahun 2007 – 2012
Dalam pemasaran semen maka jenis/ukuran semen yang dijual oleh perusahaan selama tahun 2007 s.d 2012 adalah untuk ukuran 40 kg dan 50 kg.
Untuk lebih jelasnya akan disajikan data berikut ini :


Tabel III. Perkembangan Produksi Semen PT. Semen Tonasa Tahun 2003 s.d 2012
Tahun
Jenis Produksi Semen
Keterangan
2003
1
Ukuran 40 Kg
2004
1
Ukuran 40 Kg
2005
1
Ukuran 40 Kg
2006
1
Ukuran 40 Kg
2007
2
Ukuran 40 Kg dan 50 Kg
2008
2
Ukuran 40 Kg dan 50 Kg
2009
2
Ukuran 40 Kg dan 50 Kg
2010
2
Ukuran 40 Kg dan 50 Kg
2011
2012
2
2
Ukuran 40 Kg dan 50 Kg Ukuran 40 Kg dan 50 Kg
Sumber : PT. Semen Tonasa di Kabupaten Pangkep
Berdasarkan jenis produk semen yang diproduksi oleh PT. Semen Tonasa             di Kabupaten Pangkep menurut ukuran 40 Kg dan ukuran 50 Kg, nampak bahwa pada tahun 2003 s.d tahun 2012 perusahaan memproduksi semen ukuran 40 Kg, sedangkan pada tahun 2005 s/d tahun 2010 perusahaan sudah memproduksi ukuran 40 Kg dan ukuran 50 Kg.
2.      Harga
Masalah harga jual semen dalam pemasaran memiliki peranan yang penting, sebab salah satu pertimbangan bagi konsumen dalam melakukan pembelian semen adalah faktor harga. PT. Semen Tonasa di Kabupaten Pangkep sebagai perusahaan industri semen, dalam usahanya melakukan penjualan pada kenyataannya dalam tahun 2010 mengalami peningkatan yakni sebesar 14,12 %. Oleh karena itulah maka perlu dilakukan evaluasi terhadap strategi harga jual yang dilakukan oleh            perusahaan dalam penjualan semen, khususnya pada PT. Semen Tonasa. Untuk lebih jelasnya akan disajikan pada tabel IV yaitu sebagai  berikut :
Tabel IV. Perkembangan Harga Jual Semen PT. Semen Tonasa Tahun 2003 s.d 2012

Tahun
Harga Jual Semen
Ukuran 40 Kg
Ukuran 50 Kg
Harga jual rata-rata
2003
21.000
0
21.000
2004
22.500
0
22.500
2005
28.000
0
28.000
2006
30.000
0
30.000
2007
30.000
38.000
33.875
2008
30.250
40.000
35.125
2009
30.250
42.250
36.250
2010
32.250
46.000
39.125
2011
33.000
47.000
40.000
2012
33.000
49.000
41.000
Sumber : PT. Semen Tonasa di Kabupaten Pangkep
Berdasarkan tabel IV yakni perkembangan harga jual semen pada PT. Semen Tonasa untuk tahun 2003 – 2012 maka untuk tahun 2003 - 2004 harga jual tidak mengalami peningkatan, sedangkan tahun 2005 mengalami peningkatan, salah satu faktor yang mengakibatkan peningkatan harga jual semen adalah adanya kenaikan bahan baku semen. Sedangkan untuk tahun 2006 mengalami peningkatan.
Kemudian dalam tahun 2007 perusahaan menambah ukuran semen 50 kg dengan harga jual Rp.38.000, tahun 2008 – 2009 harga jual semen per zak baik ukuran 40 kg dan 50 kg tidak mengalami kenaikan sedangkan tahun 2010 – 2012 mengalami kenaikan. Salah satu faktor yang menyebabkan adanya kenaikan harga yang disebabkan karena harga bahan baku naik dan selain itu tarif dasar listrik (TDL) mengalami kenaikan.
3.      Promosi
Upaya yang dilakukan oleh perusahaan dalam meningkatkan volume penjualan semen adalah melakukan promosi. Oleh karena itulah strategi promosi yang dilakukan oleh PT. Semen Tonasa adalah promosi penjualan seperti pemberian potongan harga, dan pemberian bonus penjualan kepada distributor yang mencapai target. Dan selain itu perusahaan memberikan bantuan sponsor dalam pertandingan olah raga. Dengan adanya penerapan strategi promosi yang dilakukan oleh perusahaan maka dapat disajikan data biaya promosi yang dikeluarkan oleh perusahaan untuk tahun 2003 s.d tahun 2012 yang dapat dilihat melalui tabel V                 yaitu sebagai berikut :
Tabel V. Perkembangan Biaya Promosi PT.Semen Tonasa  Tahun 2003 – 2012
Tahun
Biaya Promosi
(Rp)
Perkembangan Biaya Promosi
Rp.
%
2003
256.250.000
0
0
2004
262.250.000
6.000.000
2,34
2005
294.250.000
32.000.000
12,20
2006
302.250.000
8.000.000
2,72
2007
312.250.000
10.000.000
3,31
2008
353.300.000
41.050.000
13,15
2009
580.850.000
227.550.000
64,41
2010
692.800.000
111.950.000
19,27
2011
732.850.000
40.050.000
5,78
2012
784.500.000
51.650.000
7,05
Rata-rata Peningkatan (%)
58.694.444
14,47
Sumber : Hasil olahan data
Berdasarkan tabel V yaitu perkembangan biaya promosi selama tahun                           2003 – 2012 yang menunjukkan bahwa rata-rata biaya promosi meningkat sebesar Rp.58.694.444 atau sebesar 14,47 % setiap tahunnya.
4.      Saluran Distribusi
Terkait dengan distribusi untuk memudahkan perusahaan dalam menyalurkan produknya dari produsen ke konsumen adalah dengan memperhatikan masalah saluran distribusi. Adapun saluran distribusi yang digunakan oleh PT. Semen Tonasa di Kabupaten Pangkep adalah dengan menggunakan saluran distribusi tidak langsung, yakni dari produsen ke distributor, pengecer hingga kepada konsumen. Untuk lebih jelasnya adapun saluran distribusi yang digunakan oleh perusahaan dapat disajikan melalui skema 3 di bawah ini :
Skema 3. Saluran Distribusi
Text Box: Produsen
Text Box: KonsumenText Box: PengecerText Box: Distributor



Sumber : PT. Semen Tonasa di Kabupaten Pangkep
Dalam kaitannya dengan uraian tersebut di atas, maka dapat disajikan perkembangan jumlah distributor semen Tonasa yang dapat disjaikan melalui                      tabel VI yaitu sebagai berikut :
Tabel VI. Perkembangan Jumlah Distributor Semen PT.Semen Tonasa (2003 – 2012)
Tahun
Jumlah Distributor
(Unit)
Perkembangan
Unit
%
2003
10
0
0
2004
10
0
0
2005
11
1
0
2006
11
0
0
2007
11
0
0
2008
12
1
9,09
2009
17
5
41,67
2010
20
3
17,65
2011
32
12
60
2012
40
8
25
Rata-rata
3
20,43
Sumber : Hasil olahan data
Berdasarkan tabel VI nampak bahwa perkembangan jumlah distributor                    semen setiap tahun rata-rata meningkat sebesar 2 distributor atau secara prosentase meningkat sebesar 20,43 %.
Uji Statistik
1. Uji Asumsi Klasik
1.1. Uji Normalitas
Uji Normalitas ini bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi, variabel pengganggu atau residual memiliki distribusi normal.  Uji statistik yang dapat digunakan untuk menguji normalitas data yaitu uji Kolmogorov-Smirnov dengan tingkat signifikansi sebesar 0,05. Akibat data yang tidak terdistribusi                      dengan normal, maka dilakukan semilog untuk membuat data menjadi                         terdistribusi dengan normal (Ghozali, 2009: 171). Untuk lebih jelasnya akan disajikan hasil uji normalitas dengan uji Kolmogorov-Smirnov yang dapat dilihat melalui tabel berikut ini :
Tabel VII. Hasil Uji Normalitas Dengan Uji Kolmogorov-Smirnov


Produk Semen
Harga Jual
Biaya Promosi
Jumlah Distributor (Saluran Distribusi)
Volume Penjualan Semen
N
10
10
10
10
10
Normal Parametersa,,b
Mean
1.6000
32700.0000
449825.0000
17.4000
4.3850E6
Std. Deviation
.51640
7101.98525
2.11259E5
10.50079
2.12765E6
Most Extreme Differences
Absolute
.381
.173
.278
.296
.148
Positive
.277
.125
.278
.296
.148
Negative
-.381
-.173
-.180
-.240
-.129
Kolmogorov-Smirnov Z
1.204
.546
.879
.937
.469
Asymp. Sig. (2-tailed)
.110
.927
.423
.343
.980
a. Test distribution is Normal.
b. Calculated from data.
Sumber : Hasil olahan data

Tabel V yakni hasil uji normalitas, ternyata data untuk setiap variabel (produk, harga, promosi, saluran distribusi dan volume pejualan) ternyata memiliki asymp sig yang lebih besar dari 0,05. Karena nilai asymp sig dari setiap variabel yang diuji lebih besar dari 0,05 maka dapat disimpulkan bahwa data sudah memiliki distribusi normal.
1.2. Uji Multikolenearitas
Uji multikolineritas dilakukan untuk mengetahui adanya keterikatan antara variabel independen, dengan kata lain bahwa setiap variabel dependen dapat dijelaskan oleh variabel independent lainnya, sehingga untuk mengetahui apakah                 ada kolinearitas dalam penelitian ini maka dapat dilihat dari nilai variance                    inflation factor (VIF). Batas nilai VIF yang lebih dari 10 menunjukkan adanya kolinearitas yang tinggi, apabila terjadi gejala multikolinearitas, salah satu langkah untuk memperbaiki model adalah dengan menghilangkan variabel dalam model regresi. Untuk lebih jelasnya dapat disajikan melalui tabel berikut ini :






Tabel VIII. Hasil Uji Multikolinearitas
Variabel Independen (X)
Collinearity Statistics
Tolerance
VIF
Produk
0,193
5,180
Harga
0,106
9,430
Promosi
0,108
2,107
Saluran distribusi
0,132
7,589
Sumber: Data diolah melalui data SPSS
Tabel VIII yakni hasil uji multikolinearitas dari variabel (produk, harga, promosi dan saluran distribusi) tidak ada yang memiliki VIF yang lebih besar dari 10 maka dapat disimpulkan bahwa data regresi yang akan digunakan tidak memiliki persoalan multikolenearitas.
1.3. Uji Heterokedastisitas
Pengujian heteroskedastisitas pada penelitian ini menggunakan Uji Glejser yang bertujuan untuk menguji apakah dalam model regresi terjadi ketidaksamaan variance dari residual satu observasi ke observasi yang lain. Prasyarat yang                          harus terpenuhi pada model regresi adalah tidak adanya gejala heteroskedastisitas. Menurut Dwi (2008, hal. 42) bahwa  t tabel < t hitung berarti tidak terdapat heteroskedastisitas
Untuk lebih jelasnya akan disajikan hasil uji heterokesdastisitas yang dapat dilihat melalui tabel berikut ini :
Tabel IX. Hasil Uji Heteroskedastisitas
Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t
Sig.
B
Std. Error
Beta
1
(Constant)
3250.777
51130.926

.064
.952
Produk Semen
-33316.004
34208.492
-.622
-.974
.375
Harga Jual
5.802
3.356
1.489
1.729
.144
Biaya Promosi
-.329
.128
-2.516
-2.577
.050
Jumlah Distributor (Saluran Distribusi)
4005.712
2036.348
1.521
1.967
.106
a. Dependent Variable: AbsY
Sumber : Lampiran

Berdasarkan hasil uji heterokesdastisitas dengan metode Glesjer, ternyata dalam model ini tidak ada persoalan multikolineritas. Hal ini dapat dilihat dari produk dimana t hitung -0,974 < t tabel 2,776, sedangkan harga yang memiliki t hitung                     1,729 < t tabel 2,776, kemudian untuk promosi yang memiliki t hitung -2,577 <                                t tabel 2,776 dan variabel saluran distribusi yang memiliki t hitung 1,967 < t tabel 2,776. Karena t hitung dari masing-masing variabel lebih kecil dari t tabel berarti dapat disimpulkan bahwa untuk setiap variabel tidak memiliki persoalan heteroskedastisitas.
1.4. Uji Autokorelasi
Autokorelasi adalah suatu keadaan dimana terjadinya korelasi antara             residual pada satu pengamatan dengan pengamatan lain pada model regresi.                           Uji autokorelasi digunakan untuk mengetahui ada atau tidaknya korelasi yang            terjadi antara residual pada satu pengamatan dengan pengamatan lain pada model regresi. Metode pengujian menggunakan uji Durbin Watson (uji DW) dengan ketentuan menurut Dwi (2010 : 87) adalah sebagai berikut :
a)      Jika d lebih kecil dari dl atau lebih besar dari (4 – dL) maka hipotesis nol       ditolak, yang berarti terdapat autokorelasi
b)      Jika d terletak antara dU dan (4 – dU) maka hipotesis nol diterima, yang berarti tidak ada autokorelasi
c)      Jika d terletak antara dL dengan du atau diantara (4 – dU) dan (4 – dL) maka tidak menghasilkan keputusan yang penting.
Dari hasil pengolahan data SPSS maka diperoleh nilai DW sebesar 2,01, sedangkan dari tabel DW dengan tingkat signifikan 0,05 dan jumlah data (n) = 10 serta K = 4 diperoleh nilai dL sebesar 0,376 dan dU = 2,414, karena nilai  DW                              lebih besar dari dL dan lebih kecil dari 4 – Du maka tidak ada persoalan autokorelasi.
Untuk lebih jelasnya akan disajikan data mengenai hasil uji autokorelasi yang dapat dilihat melalui tabel berikut ini :
Tabel X. Hasil Uji Autokorelasi
R
R Square
Adjusted R Square
Durbin-Watson
Nilai dL
Nilai dU
.999
.999
0,999
2,759
0,376
2,414
Sumber: Data Olahan, 2011
Berdasarkan tabel X  di atas terlihat bahwa uji Durbin-Watson menghasilkan nilai 2,759.  Nilai ini lebih besar daripada nilai dU = 0,376 dan lebih kecil dari nilai          4-dU, serta lebih besar daripada nilai dL = 2,414 dan lebih kecil dari nilai 4-dL, dengan jumlah k (variabel independen) sama dengan 4.  Jadi dapat disimpulkan       tidak ada autokorelasi dalam model regresi yang diprediksi.
Analisis Pengaruh Bauran Pemasaran terhadap Volume Penjualan
Bauran pemasaran adalah variabel yang meliputi produk,. Harga, promosi, dan saluran distribusi. Dimana keempat variabel berpengaruh terhadap peningkatan variabel penjualan. Oleh karena itulah maka perlu dilakukan analisis regresi antara bauran pemasaran (produk, harga, promosi dan saluran distribusi) terhadap volume penjualan. Sebelum dilakukan pengujian pengaruh antara bauran pemasaran dengan volumen penjualan maka terlebih dahulu akan disajikan data regresi bauran pemasaran (produk, harga, promosi, saluran distribusi) dengan volume penjualan untuk tahun 2003 s/d tahun 2012 yang dapat disajikan melalui tabel XI yaitu               sebagai berikut :
Tabel XI. Data Volume Penjualan, Jenis Produk, Harga, Biaya Promosi dan Biaya Distribusi PT.Semen Tonasa Tahun 2003 s.d 2012

Tahun
Jenis
Harga
Biaya
Biaya
Volume
Produk
(X2)
Promosi
Distribusi
Penjualan
(X1)

(X3)
(X4)
(Y)
2003
1
21.000
256.250.000
10
1.982.250
2004
1
22.500
262.250.000
10
2.045.600
2005
1
28.000
294.250.000
11
2.671.200
2006
1
30.000
302.250.000
11
3.056.750
2007
2
34.000
312.250.000
11
3.678.125
2008
2
35.125
353.300.000
12
4.126.550
2009
2
36.250
580.850.000
17
5.056.782
2010
2
39.125
692.800.000
20
6.067.892
2011
2
40.000
732.850.000
32
7.082.200
2012
2
41.000
784.500.000
40
8.082.350
Sumber : PT. Semen Tonasa di Kabupaten Pangkep
Berdasarkan data bauran pemasaran (produk, harga, promosi, dan saluran distribusi) dengan volume penjualan untuk tahun 2003 – 2012 maka akan disajikan hasil olahan data regresi dengan menggunakan software SPSS release 17 yang dapat disajikan melalui tabel XII yaitu sebagai berikut :
Tabel XII. Hasil Program Spss Versi 17 Atas Regresi Bauran Pemasaran Dengan Penjualan Semen

Model
Unstandardized Coefficients
Standardized Coefficients
t
Sig.

B
Std. Error
Beta

1
(Constant)
-1936131.903
206657.974

-9.369
.000

Produk Semen
376311.908
138261.872
.091
2.722
.042

Harga Jual
93.168
13.565
.311
6.868
.001

Biaya Promosi
3.010
.517
.299
5.826
.002

Jumlah Distributor (Saluran Distribusi)
75760.649
8230.390
.374
9.205
.000

a. Dependent Variable: Volume Penjualan Semen
Sumber : Data diolah dari lampiran 1.
Tabel XII yaitu regresi antara bauran pemasaran yang meliputi:  produk (X1), promosi (X2), harga (X3) dan saluran distribusi (X4) mempunyai pengaruh positif         dan signifikan terhadap peningkatan volume penjualan semen, sehingga persamaan regresinya yaitu :
     Y = -1936131,90 + 37631,91 X1 + 93,168 X2 + 3,010 X3 + 75760,65 X4
Di mana :
bo   =  -1936131,90 merupakan konstanta atau reciprocel, dengan kata lain tanpa adanya bauran pemasaran (produk, harga, promosi dan saluran distribusi) maka volume penjualan semen sebesar 1.936.131,90 zak.
X1 =   37631,91 yang artinya apabila perusahaan menambah jenis produk semen (X1), maka volume penjualan akan meningkat sebesar 37.631,91 zak.
X2 =     93.168  yang artinya apabila perusahaan meningkatkan harga jual semen    per zak maka volume penjualan akan naik sebesar 93.168  zak.
X3 =     3.010  yang artinya apabila perusahaan meningkatkan biaya promosi, maka volume penjualan semen akan meningkat sebesar 3.010 zak.
X4 =     75760,65 yang artinya apabila perusahaan meningkatkan jumlah distributor maka volume penjualan akan meningkat sebesar 75.761 zak.
        Selanjutnya untuk melihat besarnya hubungan antara produk (X1), harga (X2), promosi (X3),  saluran distribusi (X4), menunjukkan bahwa : R    =  0,999; R2   =  0,998.
Korelasi :
R   =  0,999 yang artinya : hubungan antara produk, harga, promosi dan saluran distribusi dengan volume penjualan kuat dan positif, karena mendekati 1 atau dengan kata lain jika bauran pemasaran (produk, harga, promosi dan saluran distribusi) ditingkatkan, maka akan berpengaruh dalam peningkatan volume penjualan sebab r = 0,999.
R2   =      0,998 yang artinya persentase sumbangan pengaruh variabel independen (produk, harga, promosi dan saluran distribusi) yang digunakan dalam model mampu menjelaskan sebesar 99,80% variabel dependen (volume penjualan semen).
Untuk melihat pengaruh masing-masing variabel bauran pemasaran terhadap volume penjualan semen, maka dilakukan uji t (uji parsial) dengan formulasi sebagai berikut
1)      Untuk variabel X1
Ho  :  B1 = 0 (tak ada pengaruh X terhadap Y)
H1  :  B1 > 0 (ada pengaruh X terhadap Y)
df  =  n – k – 1 = 10 – 4 – 1 = 2
a   =  0,05
t hitung  = 2,722
t tabel   = ( a ) = 2,571
Dengan demikian, maka dapat dikatakan bahwa pengaruh produk (X1) terhadap volume penjualan semen (Y) dengan tingkat kepercayaan 95% mempunyai pengaruh nyata 95% (a= 0,05), oleh karena thit = 2,722 > t tabel (a) =  2,571.
2)      Untuk variabel X2
Ho  :  B2 = 0 (tak ada pengaruh X terhadap Y)
H1  :  B2 > 0 (ada pengaruh X terhadap Y)
df  =  5
a   =  0,05
t hitung  =  6,868
t tabel   = (a) =  2,571
Dengan demikian, maka dapat dikatakan bahwa harga (X2) berpengaruh positif dan nyata terhadap peningkatan volume penjualan semen (Y) dengan kepercayaan 95 % berpengaruh nyata dan positif, oleh karena  thit =  6,868 > t tabel 0,05 (2) = 2,015.
3)      Untuk variabel X3
Ho  :  B3 = 0 (tak ada pengaruh X terhadap Y)
H1  :  B3 > 0 (ada pengaruh X terhadap Y)
df  =  2
a   =  0,05
t hitung  =  5,826
t tabel   = (a) =  2,571
Dengan demikian, maka dapat dikatakan bahwa pengaruh promosi (X3) terhadap peningkatan volume penjualan semen (Y) dengan kepercayaan 95 % mempunyai pengaruh nyata, oleh karena  thit = 5,826 > ttabel 0,05 (2) = 2,571.
4)      Untuk variabel X4
Ho  :  b4 = 0 (tak ada pengaruh X terhadap Y)
H1  :  b4 > 0 (ada pengaruh X terhadap Y)
df  =  2
a   =  0,05
t hitung  =  9,205
t tabel   = (a) =  2,571
Dengan demikian, maka dapat dikatakan bahwa jumlah distribusi (X4) berpengaruh positif dan tidak signifikan terhadap peningkatan volume penjualan semen (Y) dengan kepercayaan 95 % karena thit = 9,205 < ttabel 0,05 (5) = 2,571.
1.5. Pembahasan
Dari hasil analisis regresi dalam pembahasan ini, menunjukkan bahwa keempat variabel bauran pemasaran yang terdiri dari : produk (X1), harga jual (X2), biaya promosi (X3) dan biaya saluran distribusi (X4) terhadap peningkatan volume penjualan semen (Y). Dalam kaitannya dengan uraian tersebut di atas, maka dapat dikemukakan masing-masing koefisien regresi yang dapat diuraikan sebagai berikut :
1)     Jenis produk (X1)
Besarnya koefisien regresi untuk produk (X1) sebesar 376.311,91 zak, hal ini menunjukkan bahwa dengan menambah jenis produk semen maka akan diikuti oleh peningkatan volume penjualan. Hal ini dapat dibuktikan dengan nilai prob 0,026 < 0,05 dan selain itu nilai thitung (2,722) > ttabel (2,571).
2)     Harga jual (X2)
Dari hasil olahan data persamaan regresi yang menunjukkan bahwa dengan nilai sign = 0,001 dan thitung sebesar 6,688. Hal ini menunjukkan bahwa apabila perusahaan meningkatkan harga jual, maka volume penjualan semen akan mengalami peningkatan.
3)     Biaya promosi (X3)
Berdasarkan hasil olahan data regresi yakni untuk variabel promosi, diperoleh nilai koefisien regresi sebesar 3.010 zak dengan nilai sign = 0,000 dan thitung = 5,826 > 2,571. Hal ini dapat diinterprestasikan bahwa dengan adanya peningkatan biaya promosi maka akan dapat diikuti oleh adanya peningkatan volume penjualan semen sebesar 3.010 zak, sehingga dapat dikatakan bahwa promosi berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan volume penjualan.
4)     Saluran distribusi (X4)
Berdasarkan hasil olahan data regresi dengan penggunaan SPSS versi 17,                    maka diperoleh nilai koefisien regresi = 75.760,65 dengan nilai sign = 0,000 dan            t hitung = 9,205. Hal ini menunjukkan bahwa apabila perusahaan meningkatkan jumlah distributormaka akan mempengaruhi peningkatan volume penjualan, karena dengan nilai sign = 0,000 > 0,05 dan thitung < ttabel maka dapat dikatakan bahwa jumlah distributor berpengaruh secara signifikan terhadap peningkatan volume penjualan.

KESIMPULAN DAN SARAN-SARAN
Kesimpulan
Berdasarkan hasil analisis pengaruh kebijakan saluran distribusi terhadap peningkatan volume penjualan semen pada PT. Semen Tonasa di Kabupaten Pangkep, maka dapat ditarik beberapa kesimpulan sebagai berikut :
1.      Berdasarkan data perkembangan volume penjualan semen pada PT. Semen Tonasa di Kabupaten Pangkep  selama tahun 2001 s/d tahun 2010 yang rata-rata meningkat sebesar 677.789 zak atau sebesar 17,11%. Hal ini disebabkan karena penerapan kebijakan bauran pemasaran telah dilakukan secara efektif.
2.      Hasil perhitungan regresi linear berganda dengan menggunakan program SPSS versi 17 menunjukkan bahwa untuk produk, harga, promosi berpengaruh                       positif dan signifikan terhadap volume penjualan. Sedangkan untuk saluran distribusi berpengaruh positif dan signifikan terhadap volume penjualan. Alasannya karena nilai sig < 0,05, dan variabel yang paling dominan mempengaruhi penjualan adalah promosi.
Saran
Berdasarkan kesimpulan yang telah dikemukakan di atas, maka penulis memberikan saran sebagai berikut :
1.      Untuk lebih meningkatkan volume penjualan semen, maka perlunya perusahaan memperhatikan masalah perusahaan kualitas semen dan disamping itu memperhatikan strategi promosi yang selama ini dilakukan.
2.      Disarankan pula, agar sebaiknya perusahaan memperhatikan masalah jumlah distributor, dimana dengan meningkatkan jumlah distributor dalam pemasaran semen.




DAFTAR PUSTAKA
A. Usmara A, 2003, Strategi Baru Manajemen Pemasaran, cetakan pertama, Penerbit:  Amara Books, Yogyakarta
Buchari Alma, 2004, Manajemen Pemasaran Dan Pemasaran Jasa, cetakan kelima, edisi revisi, Penerbit : Alfabeta, Bandung.
Basu Swastha, dan T. Hani Handoko, 2008, Manajemen Pemasaran, Analisa Perilaku Konsumen, edisi pertama, cetakan keempat, Penerbit : BPFE, Yogyakarta
Catur E. Rismiati dan Ig. Bondan Suratno, 2001, Pemasaran Barang dan Jasa, cetaan pertama, Penerbit : Kanisius, Yogyakarta
Fuad, 2008. Pengantar Bisnis, edisi keenam, cetakan ketigabelas, Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Freddy Rangkuti, 2009, Strategi Promosi Yang Kreatif, edisi pertama, cetakan pertama, Penerbit : Gramedia Pustaka Utama, Jakarta
Fandy Tjiptono 2009, Strategi Pemasaran, edisi kedua, cetakan ketujuh, Penerbit : Andi Offset, Yogyakarta
Gregerius Chandra, 2002, Strategi dan Program Pemasaran, edisi pertama, cetakan pertama, Penerbit : Andi Offset, Yogyakarta.
Indriyo Gitosudarmo, 2008, Manajemen Pemasaran, edisi pertama, cetakan keempat, Penerbit : BPFE – Yogyakarta
Muhammad Firdaus 2008, Manajemen Agribisnis, edisi satu, cetakan pertama, Penerbit : Bumi Aksara, Jakarta
Mulyono, 2006, Statistik Untuk Ekonomi dan Bisnis, edisi ketiga, cetakan pertama, Lembaga Penerbit : Fakultas Ekonomi Universitas Indonesia, Jakarta
Kotler Philip, 2002, Manajemen Pemasaran, edisi Millenium, terjemahan Hendra Teguh, dan Ronny A. Rusli, Penerbit : Prenhallindo, Jakarta
Ratih Hurriyati, 2005, Bauran Pemasaran dan Loyalitas Konsumen, cetakan pertama, Penerbit : Alfabeta, Bandung
Sunarto, 2003, Prinsip-Prinsip Pemasaran, Penerbit : AMUS, Yogyakarta
Sofyan Assauri, 2008, Manajemen Pemasaran : Dasar, Konsep dan Strategi, Cetakan kedelapan, Penerbit ; PT. Raja Grafindo, Jakarta.
Yazid, 2005, Pemasaran Jasa Konsep dan Implementasi, edisi kedua, cetakan ketiga, Ekonisia, Yogyakarta

Keluarga dan Upaya Penguatan Basis Pendidikan Anak

Keluarga merupakan basis pendidikan pertama dan utama bagi setiap anak (Hasbi Wahy, 2012: 245) . Melalui   lingkungan keluarga, maka aka...