Friday, September 29, 2017

Memimpikan Layanan Kereta Api Inklusif bagi Penyandang Disabilitas Oleh: Harjoni Desky



Salah satu moda transportasi darat tertua di Indonesia adalah kereta api. Bila membaca sejarah kereta api di Indonesia, maka disana akan kita temukan fakta bahwa kehadiran kereta api pertama di Indonesia dibangun tahun 1867 di Semarang dengan rute Samarang-Tanggung yang berjarak 26 km oleh NISM, N.V. (Nederlands-Indische Spoorweg Maatschappij) dengan lebar jalur 1.435 mm. (Lihat: https://id.wikipedia.org/wiki/Sejarah_perkeretaapian_di_Indonesia).  Kereta Api Indonesia sendiri  dikelola PT. Kereta Api Indonesia.

PT. Kereta Api Indonesia sudah 72 tahun berkiprah dalam dunia perkeretaan api Indonesia. Tujuh puluh dua tahun merupakan usia yang cukup matang bagi sebuah perjalanan perusahaan. Dan tidak bisa kita pungkiri bahwa hari ini telah terjadi transformasi pada PT.KAI. Bukan saja perubahan logo dan nama perusahaan saja, melainkan juga sistem, sarana dan prasarana kereta api itu sendiri. Kita bisa lihat perubahan terjadi mulai dari keberadaan kereta api ber AC, penggantian toilet model plunglep dengan teknologi baru, sistem tiket online, pengelolaan stasiun kereta api yang semakin bagus. Namun demikian, disisi lain, masih banyak mimpi dan harapan masyarakat yang belum terpenuhi oleh PT.KAI ini, salah satunya adalah harapan para penyandang disabilitas (difabel).

Layanan Kereta Api Inklusif bagi Para Penyandang Disabilitas

Menurut BPS 2016, penyandang disabilitas di Indonesia (difabel) berjumlah 12% dari jumlah total penduduk Indonesia. Dari 12 persen itu terbagi lagi kepada saudara-saudara kita penyandang tunanetra (cacat mata), tunadaksa (cacat tubuh), Tunarungu dan lainnya. Jumlah 12% penyandang disabilitas di Indonesia merupakan angka yang cukup besar, dan biasanya mereka juga sering menggunakan kereta api. Karena itu, sudah sepantasnya PT.KAI memberikan layanan inklusif bagi para penyandang disabilitas (difabel).

Inklusif berasal dari Bahasa Inggris “inclusive” yang artinya “termasuk di dalamnya”. Secara istilah berarti menempatkan dirinya ke dalam cara pandang orang lain/ kelompok lain dalam melihat dunia, dengan kata lain berusaha menggunakan sudut pandang orang lain atau kelompok lain dalam memahami masalah.  Dalam perkembangannya istilah tersebut meluas digunakan untuk membangun sikap dalam banyak bidang termasuk bidang transportasi dan perkeretaapian.

Layanan kereta api inklusif dapat diartikan sebagai layanan kereta api yang layak, nyaman dan ramah bagi penyandang disabilitas.  Istilah Disabilitas merupakan kata bahasa Indonesia berasal dari serapan kata bahasa Inggris “disability” (jamak: disabilities) yang berarti cacat atau ketidakmampuan. Disabilitas adalah istilah baru pengganti Penyandang Cacat (https://id.wikipedia.org).

Dan untuk mempertajam tulisan terkait harapan penulis kepada “kereta api Indonesia di masa yang akan datang” maka tulisan ini hanya akan mengambil topik harapan penulis pada layanan kereta api inklusif  bagi penyandang tunanetra dan penyandang tunadaksa. Kita ketahui bersama bahwa para penyandang tunanetra memiliki keterbatasan pada penglihatan, sementara penyandang tunadaksa memiliki keterbatasan fisik (cacat fisik). Untuk mewujudkan layanan kereta api inklusif bagi mereka, maka harus dimulai secara terintegrasi dalam satu sistem utuh, yaitu: mulai dari tiket, gerbong kereta api, toilet kereta api, tempat duduk (kursi) kereta api, stasiun kereta api, dan lain sebagainya yang digunakan oleh para penyandang disabilitas tersebut.

Terkait dengan harapan mewujudkan layanan kereta api inklusif  bagi para penyandang disabilitas, maka ada beberapa hal yang semestinya dilaksanakan oleh PT.KAI Indonesia untuk memenuhi harapan tersebut. Beberapa hal tersebut dapat diuraikan sebagai berikut:

 Pertama, sistem tiket Inklusif bagi penyandang disabilitas. Kereta api sekarang memiliki mesin penjual tiket otomatis, namun sayang mesin ini belum inklusif (layak, nyaman dan ramah) bagi para penyandang disabilitas (Tunanetra). Tombol tulisan belum mencantumkan huruf braille, belum adanya bantuan suara (petunjuk) bagi pengguna mesin ini (penyandang tunanetra), pencahayaan dan warna layar yang ramah bagi penyandang tunanetra.

Kedua, Stasiun kereta api Inklusif bagi penyandang disabilitas. Keberadaan statiun kereta api kini semakin lama semakin baik dan berkualitas. Namun sayangnya, disisi lain belum representatif bagi para penyandang tunadaksa dan tunanetra. Untuk itu, maka perlu dilakukan pembenahan stasiun menuju stasiun inklusif bagi para penyandang disabilitas. Hal ini bisa mulai dari penyediana jalur yang bisa dilewati kursi roda, jalur yang dilewati para penyandang tunanetra, kursi tempat menunggu, lantai, kamar mandi (WC) dan lain sebagainya, yang disesuaikan dengan layanan inklusif bagi para penyandang disabilitas.

Kedua, Gerbong kereta api inklusif bagi penyandang disabilitas. Hari ini kereta api Indonesia sudah memiliki gerbong ber Ac. Namun, gerbong  kereta api yang ada sekarang ini belum memenuhi kategori inklusif  (layak, nyaman dan ramah) bagi para penyandang disabilitas, mulai dari proses naiknya penumbang disabilitas ke gerbong, yang cukup tinggi dan sangat sulit dilakukan oleh para penyandang tunadaksa, baik yang bisa berjalan maupun yang hanya mampu duduk dikursi roda. Selanjutnya lantai gerbong yang belum layak, nyaman dan ramah bagi penyandang tunanetra dan tunadaksa, demikian juga kamar mandinya. Untuk itu, sangat diperlukan diadakan gerbong khusus yang didesain memenuhi kategori inklusif (layak, nyaman dan ramah) bagi para penyandang disabilitas.

Semoga diusia Kereta Api Indonesia yang ke-72 tahun ini, kereta api semakin prima layanannya, khususnya layanan Inklusif kepada masyarakat disabilitas (tunanetra dan tunadaksa). Dengan mengacu kepada konsep layanan kereta api inklusif  bagi penyandang disabilitas, semoga dapat membawa Kereta Api Indonesia, menjadi No 1 sebagai transportasi pertama yang peduli kepada penyandang disabilitas. Kepedulian kepada para penyandnag disabilitas harus lahir, sebab para penyandang disabilitas itu adalah kita, saudara kita, sebangsa dan setanah air.

Keluarga dan Upaya Penguatan Basis Pendidikan Anak

Keluarga merupakan basis pendidikan pertama dan utama bagi setiap anak (Hasbi Wahy, 2012: 245) . Melalui   lingkungan keluarga, maka aka...