Thursday, October 12, 2017

Kepemimpinan Berbasis Nilai untuk Pembentukan Karakter Anak



Dia berdiri tegak dihadapan ratusan anak-anak yang berbaris rapi di halaman Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT). SDIT tersebut merupakan salah satu sekolah dasar unggul yang ada di Kota Lhokseumawe. Dengan suaranya yang lantang dan jelas, ia memberikan motivasi dan nasehat. Anak-anak kelihatan mendengarkan apa yang ia sampaikan dengan seksama. Senin pagi itu, giliran Pak Yusmadi memberikan motivasi dan nasehat. Kali ini, ia menyinggung masalah “Kemandirian Rasulullah SAW yang Patut Diteladani” dan ia berhasil membuat anak-anak didiknya  serius mendengarkannya.
Pak Yusmadi merupakan salah seorang kepala sekolah termuda di lingkungan Pemerintah Kota Lhokseumawe, usianya baru sekitar 44 tahun. Ia sudah menjabat sebagai kepala sekolah di SDIT tersebut selama 4 (empat) tahun ini. Beberapa kali ia meraih prestasi dan penghargaan sebagai kepala sekolah terbaik pada tingkat pemerintah kota dan provinsi Aceh. Sosoknya yang ramah dan santun, membuat ia mudah akrab dengan siapa saja termasuk dengan anak-anak didiknya. Baginya menjadi guru bukanlah pekerjaan main-main. 
“Mengajar tidak bisa dilakukan dengan cara yang biasa-biasa saja, tetapi harus dilakukan dengan cara-cara yang luar biasa” Kata Pak Yusmadi.
Prinsip ini tidak hanya lancar diucapkan oleh Pak Yusmadi, tetapi dalam kesehariannya sebagai pengajar dan kepala sekolah ia terapkan. Bagi Pak Yusmadi, anak didiknya tidak cukup hanya diberikan ilmu pengetahuan agar pinter saja, tetapi yang lebih utama adalah pembentukan karakter si anak. Pembentukan karakter anak menjadi salah satu tujuan yang ingin dicapai melalui sekolah yang ia pimpin. Ia menyadari benar bahwa lingkungan sekolah memiliki pengaruh yang besar bagi pembentukan karakter anak. Dan ia selalu merasa sedih melihat kondisi akhlak anak-anak zaman sekarang.
“Ironis, melihat anak-anak zaman sekarang kurang menghargai sesamanya, penghormatan kepada orang yang lebih tua dan rasa empati kepada yang menderita sudah menipis” Ujarnya lirih.
Pembentukan karakter anak menjadi misi besarnya di sekolah tersebut. Begitu penting pembentukan karakter ini, maka pak Yusmadi menjadikannya “Proyek Bersama” antara seluruh guru di lembaga pendidikan yang dipimpinnya dengan wali (orang tua) murid di rumah. Dengan melakukan kunjungan ke rumah siswa secara berkala, ia programkan. Tujuannya agar orang tua dan guru, sama-sama tahu bagaimana perkembangan sikap, dan karakter anak, baik di rumah maupun di sekolah.
Bagi Pak Yusmadi pendidikan harus mampu menampung semua ranah, mempraktikkan nilai-nilai religius dimana saja, melalui berbagai kompetensi dan life skill peserta didik. Dan masing-masing ranah tersebut tidak dapat berdiri sendiri, melainkan terintegrasi dan saling bergantung dan menentukan.
“Kedepan, nantinya kesuksesan seseorang tidak ditentukan semata-mata oleh pengetahuan dan kemampuan teknis (hard skill) saja, tetapi lebih oleh kemampuan mengelola diri dan orang lain (soft skill)” Katanya penuh serius.  
Menurutnya, keberhasilan sekolah juga tidak tergantung hanya pada angka ujian/tes, indikator prestasi atau daftar ciri-ciri sekolah yang efektif semata, tetapi sekolah dipandang efektif ketika ia bisa menjadi latar di mana siswa-siswa menemukan kegembiraan, kesulitan-kesulitan dan kepuasan-kepuasan belajar. Ini adalah model yang difokuskan pada konsep budaya sekolah di mana keefektifan sekolah lebih tergantung pada penciptaan ”sebuah komunitas orang belajar”. Dan itu hanya akan bisa terbentuk dengan pembentukan budaya positif yang dimulai dari sekolah.
Pak Yusmadi juga berharap sekolah dasar yang dipimpinnya tidak hanya berpengaruh pada kemampuan akademik dan prestasi semata, tetapi juga pada perkembangan psikososial peserta didik. Atas dasar ini, pak Yusmadi membentuk tim khusus untuk menyusun kurikulum pendidikan di sekolah agar mampu merefleksikan pemahaman pendidikan mengenai bagaimana anak-anak belajar, dan bagaimana memberikan pengalaman belajar yang penuh makna untuk menstimulasi pertumbuhan fisik dan perkembangan aspek-aspek psikologis si anak.
Proses pembelajaran harus mampu menstimulasi pertumbuhan fisik dan perkembangan aspek-aspek psikologis anak secara optimal, agar anak mampu menyesuaikan diri dengan baik dan membawa nilai-nilai yang diterima secara sosial” Harap Pak Yusmadi.
Kalau dilihat konsep yang terapkan pak Yusmadi. Konsep itu erat kaitannya dengan hasil penelitian para ahli pendidik seperti Dewey, Montessori, Vygotsky, Erikson, Piaget (Mooney, 2003) yang menyatakan bahwa pendidikan harus terfokus pada peserta didik, yang berisikan program kegiatan belajar yang aktif dan interaktif, serta melibatkan dunia peserta didik dan sekitarnya. Aktif dimaksudkan bahwa program kegiatan belajar yang diterapkan harus menstimulasi peserta didik untuk terus belajar melalui berbagai pengalaman di sekolah. Interaktif, yaitu anak terlibat aktif di setiap program belajar serta adanya komunikasi yang terjadi antara pendidik dengan anak, pendidik dengan orang tua murid atau pun anak dengan anak.
Terkait dengan pembentukan karakter anak, pak Yusmadi menyadari bahwa kedudukan kepala sekolah sangat penting dan strategis sebagai pemimpin puncak (top leader) di sekolah dengan otoritas penuh untuk pengelolaan dan pengembangan kinerja guru dan sekaligus bertanggung jawab atas keberhasilan sekolah sebagai agen perubahan. Ia juga memahami bahwa Kepala Sekolah sekaligus berperan memandu, menuntun, membimbing, membangun, memberi, dan memotifasi kerja, mengemudikan lembaga, menjalin jaringan komunikasi yang baik dengan komunitas sekolah, lingkungan sekitar dan yang lainnya.
“Kepala sekolah merupakan faktor pendorong untuk mewujudkan visi, misi, tujuan dan sasaran sekolah menuju sekolah bermutu dan berkarakter, terutama dalam konteks penguatan karakter peserta didik, sebagai bagian amat penting, sebagaimana diamanatkan oleh tujuan pendidikan Nasional”Kata Pak Yusmadi penuh semangat.
Perkembangan karakter dalam lima tahun terakhir ini menjadi isu penting untuk keselamatan bangsa saat ini, di tengah carut marutnya bebagai pelanggaran hampir di semua lapisan masyarakat. Korupsi, permainan hukum, pembunuhan, pemerkosaan, bunuh diri, hingga perkelahian remaja dan anak-anak, mewarnai kehidupan kita sehari-hari.  Diharapkan adanya upaya pembentukan karakter sejak sedini. Pembentukan karakter ini dimulai olah orang tua dalam lingkungan keluarga, dilanjutkan dan disinergikan dengan upaya para guru saat anak tersebut sudah masuk lembaga pendidikan. Pembentukan karakter sejak dini sangat penting agar kelak setelah anak dewasa, karakter yang dia miliki benar-benar kuat terinternalisasi dalam dirinya, tidak sebatas pengetahuan dan pemahaman saja. 
Melihat kondisi kekinian tersebut, bagi Pak Yusmadi pendidikan karakter harus mencakup dimensi moral reasoning, moral feeling, dan moral behaviour, sebagaimana yang diharapkan  Lickona (1992).  Lickona (1992) menegaskan bahwa: “In character education, it’s clear we want our children are able to judge what is right, care deeply about what is right, and then do what they believe to be right-event in the face of pressure form without and temptation from within. Dengan demikian, pendidikan karakter seyogyanya dikembangkan dengan menerapkan holistic approach, dalam artian bahwa “Effective character education is not adding a program or set of programs. Rather it is a tranformation of the culture and life of the school”
Menurutnya, sistem nilai mendasar dari sebuah organisasi yang berdaya guna adalah nilai-nilai yang dibangun dan dikuatkan melalui bentuk kepemimpinan berbasis nilai yang kuat dan benar-benar dipraktekkan oleh pemimpin dengan bentuk keteladanan, sehingga mengikat seluruh sistem organisasi ke dalam satu homogenitas karakter yang menguatkan organisasi itu sendiri.
Dalam hal ini, pemimpin sekolah dapat memulainya dengan membuat visi yang dapat dipercaya kebenarannya oleh para guru dan karyawan, mengkomunikasikan visi tersebut kesemua warga organisasi dan kemudian melembagakan visi tersebut melalui berbagai perilaku, ritual, upacara, dan simbol, begitu pula melalui sistem dan kebijakan organisasi sekolah” Ujarnya.
Dan Pak Yusmadi menyimpulkan bahwa Pemimpin berbasis nilai karakter akan meraih kepercayaan dan rasa hormat dari seluruh anggota organisasinya tatkala pemimpin tersbut mampu secara kongkrit mendemonstrasikan adanya semangat, kegigihan, perjuangan dan berkorban dalam menjalankan nilai-nilai karakter organisasi. Kesadaran ini pada setiap kesempatan dengan dewan guru, ia selalu tekankan.
“Guru dan kepala sekolah yang baik tentu mereka-mereka yang mampu menjaga keselarasan antara perkataan dan perbuatannya agar sesuai, tidak hanya di depan anak-anak saja, tetapi juga di depan guru lainnya, bahkan di luar lingkungan sekolah” Ucapnya.
Pak Yusmadi menyarankan perlu adanya alternatif strategi dalam penguatan karakter peserta didik oleh setiap kepala sekolah, agar cita-cita tersebut dapat diraih secara maksimal dan berhasil guna bagi kemanfaatkan peserta didik sebagai calon generasi pemegang estafet peradaban selanjutnya.
Setidaknya ada 7 (tujuh) strategi penguatan karakter berbasis nilai yang layak dilakukan oleh kepala sekolah, antara lain: (1) integrasi keseluruhan lembaga pendidikan; (2) Integrasi total kompetensi ke dalam keseharian aspek budaya sekolah; (3) Penguatan komitmen kedisiplinan; (4) Kerjasama dengan pihak ketiga; (5) On going monitoring and evaluation; (6) Routine Progress Reporting; dan (7) Open reflection. Ketujuh strategi ini saya nyakini akan menjadi konsep dari Kepemimpinan Berbasis Nilai untuk Pembentukan Karakter AnakKata Pak Yusmadi penuh semangat.

Saturday, October 7, 2017

Berbeda untuk Saling Mengerti



Siang itu, langit tidak secerah kemarin
Puluhan burung walet terbang rendah ingin pulang ke sarang
Dan dari kejauhan mulai terdengar suara katak
Sebagai pertanda hujan akan turun

Katak dan burung walet adalah dua hewan yang berbeda
Sudah jelas berbeda bentuk dan rupa
Tapi ada yang sama
Kedua-duanya saling mengerti pertanda akan hujan

Bangsaku adalah bangsa yang besar
Ragam suku, bahasa dan agama ada disini
Kami juga berbeda bentuk dan rupa
Tapi ada yang sama
Kami mengerti perbedaan itu Indah

Perbedaan membuat kami kaya
Perbedayaan membuat kami saling memahami
Perbedaan ini membuat kami bersaudara
Perbedaan membuat kami saling mengerti
Mengerti bahwa bangsaku adalah bangsa yang besar

Indahnya Perbedaan



Pelangi bewarna, menghiasi angkasa
Perpaduan beragam warna
Terlihat indah di mata

Ragam kicauan burung bersaut-sautan
Membuat indah suasana
Terdengar merdu nadanya

Huruf terangkai membentuk kata
Kata teruntai membentuk kalimat
Kalimat tersusun merangkai cerita
nan indah maknanya

Orang-orang pun beragam
Suku, bahasa, dan pikiran
Namun dipersatukan dalam
Ikatan Kebangsaan
dengan segala perbedaan yang ada

Betapa indahnya di dalam satu bangsa
perbedaan dipersatukan dalam persekutuan
Sehingga bisa tunjukkan indahnya perbedaan
pada dunia yang mendamba

Kini semua harus tahu perbedaan itu ada disini Oleh: Harjoni Desky



Ribuan pulau kau miliki
Ratusan kelompok etnis ada disini
Tujuh ratus empat puluh dua bahasa kau gunakan
Ratusan kesenian dan budaya kau praktekkan

Indonesia itulah namamu
Nama yang lahir dari perjuangan panjang anak negeri
Tak terasa 72 tahun usiamu kini
Walau kini kau kelihatan sudah mulai lelah

Lelah memenuhi jutaan keinginan yang ada disini
Banyak nafsu yang membara ingin membakarmu
Ribuan jemari rakus ingin membagimu kesana dan kemari
Disisi lain, ribuan bahkan jutaan doa berharap kau tetap disini

Perbedaan semakin diperlebar
Ragam warna semakin ditonjolkan
Dengan segala tujuan yang ada dihati
Tapi disisi lain, masih banyak harapan dipundakmu
Harapan agar engkau tetap kuat dengan segala perbedaan

Kini semua harus tahu perbedaan itu ada disini
tidak akan hilang dimakan waktu
Dan kini saatnya untuk kembali mengerti arti perbedaan
Jika ingin engkau tetap disini
Dipelukan anak negeri

Keluarga dan Upaya Penguatan Basis Pendidikan Anak

Keluarga merupakan basis pendidikan pertama dan utama bagi setiap anak (Hasbi Wahy, 2012: 245) . Melalui   lingkungan keluarga, maka aka...