Wednesday, December 20, 2017

Mencintai Rupiah dengan Benar dan Sepenuh Hati



“Betapa pentingnya arti rupiah ini dalam kehidupan berbangsa dan bernegara harus mampu diwujudkan dengan benar” begitulah salah satu kutipan pidato yang disampaikan Kepala Bank Indonesia pada peringatan ORI (Oeang Republik Indonesia) yang ke-67. Perlakuan terhadap uang harus dilakukan dengan benar dengan penuh cinta. Memperlakukan rupiah dengan benar tentu dengan cara menjaga dan merawat uang rupiah yang kita miliki. Ingatkah kita dengan konsep 5 Jangan ala Bank Indonesia dalam rangka menjaga dan merawat rupiah? yaitu: pertama, jangan dilipat; kedua, jangan dicoret; ketiga, distaples; keempat, jangan diremas; dan kelima, jangan dibasahi.

Langkah-langkah tersebut merupakan upaya masing-masing kita agar rupiah tetap terawat dan terjaga untuk selamanya. Sementara, mencintai dan menyenangi rupiah dapat dilakukan dengan penuh perasaan atau dengan kata lain sepenuh hati. Untuk bisa menggambarkan rasa cinta dan rasa senang kepada rupiah, bisa kita tamsilkan/contohkan seperti rasa senangnya seorang anak yang berusia 8-10 tahun, pada saat idul fitri (lebaran) dan pulang kampung, bertemu dengan kakek, nenek serta paman dan bibinya, lalu mereka ini (para anak-anak) mendapatkan hadiah uang Rp.20.000,- s.d Rp.50.000,- yang baru. Bagaiman perasaan mereka? Tentu saja, mereka sangat bahagia.

Mengapa anak-anak disaat lebaran/tahun baru, mendapatkan lembaran rupiah yang baru, mereka senang dan bahagia? Jawabannya untuk itu banyak, diantaranya: pertama, mereka senang mendapatkan lembaran-lembaran rupiah yang baru; kedua, mereka senang dengan tambahan uang tersebut, artinya kini bertambah pula tabungan atau isi dompet mereka; dan ketiga, adanya tambahan uang, membuat semakin dekat mereka untuk membelikan sesuatu yang selama ini diidam-idamkan, baik itu mainan, makanan ataupun pakaian. Kesenangan dan kebahagiaan seperti inilah yang seharusnya ada dalam sanubari kita, sehingga kita benar-benar akan menjaga, merawat serta menghargai tiap lembar uang rupiah yang kita miliki.

Apresiasi yang tinggi sudah sepantasnya diberikan kepada Bank Indonesia. Dimana Bank Indonesia sebagai lembaga yang berwenang menjaga eksistensi rupiah, masih tetap konsisten melahirkan kebijakan dan langkah-langkah kongkrit dalam menjaga dan mensosialisasikan uang rupiah dari kota sampai desa di bumi nusantara ini. Pertanyaannya, mengapa semua itu harus dilakukan? Tidak lain karena uang rupiah memiliki makna teramat berarti, tidak hanya menjadi alat pembayaran semata, tetapi juga merupakan lambang kedaulatan Indonesia. Rupiah, adalah alat pembayaran yang sah yang digunakan dalam kegiatan perekonomian kita, bertujuan mewujudkan kesejahteraan bagi seluruh rakyat Indonesia. Kepercayaan dan kecintaan kita kepada rupiah akan berdampak luas terutama dapat menumbuhkan  kepercayaan masyarakat internasional terhadap rupiah itu sendiri, serta perekonomian bangsa ini, dan pada akhirnya akan membuat rupiah memiliki martabat yang tinggi, baik di dalam maupun di luar negeri.

Terkait dengan hal tersebut, ada beberapa langkah yang perlu dilakukan bersama, diantaranya adalah menggunakan rupiah dalam setiap transaksi keuangan yang dilakukan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI), kecuali untuk transaksi tertentu yang mengharuskan menggunakan valuta asing; Setiap orang dilarang menolak untuk menerima Rupiah dalam rangka pelaksanaan pembayaran dan pelaksanaan kewajiban yang harus dipenuhi dengan Rupiah; Tidak dibenarkan rupiah yang kita cintai dirusak, dipotong-potong, dihancurkan, diubah, dan dipalsukan; dan barang siapa yang dengan sengaja merusak, memotong-motong, menghancurkan, mengubah, dan memalsukan rupiah dan hal-hal lain yang dianggap merendahkan mata uang rupiah, akan berhadapan dengan hukum untuk dikenakan sanksi sesuai ketentuan yang berlaku.

Kenali, Maka Lahirlah Cinta

Disisi lain, masih ditemukan adanya masyarakat kita yang belum memperlakukan rupiah secara benar, belum mengenal dan mampu membedakan dengan baik uang asli dan palsu, menjadi pekerjaan kita semua.  Tanggungjawab ini tidak bisa kita lepaskan 100% kepada Bank Indonesia, melainkan harus kita ambil porsi tanggungjawab tersebut sebagian, sesuai dengan peran kita masing-masing di tengah-tengah masyarakat. Misalnya, sebagai kepala desa memiliki kewajiban untuk menumbuhkan kecintaan pada rupiah dan memperkenalkan ciri-ciri rupiah kepada seluruh warganya, demikian juga kepala sekolah, orang tua dan kita semua. Ada beberapa poin penting yang perlu diberitahukan kepada masyarakat luas terkait dengan ciri-ciri uang dan cara membedakan yang asli dan palsu. 
 


Dari gambar diatas, secara umum ciri-ciri uang kertas rupiah itu memiliki kertas khusus yang terbuat dari serat kapas, memiliki ukuran tertentu (kalau uang Rp.100.000,- dengan ukuran 151 mm x 65 mm, sementara uang Rp. 50.000,- dengan ukuran 149 mm x 65 mm). Selanjutnya untuk membedakan yang asli dan palsu dapat dilakukan dengan cara 3 D, yaitu: cetakan terasa kasar apabila diraba, apabila diterawang ke arah cahaya, logo BI akan terlihat utuh, dan apabila dilihat dari sudut pandang tertentu akan terlihat gambar tersembunyi.
Sebagai penutup, kita berharap mudah-mudahan dengan kecintaian kita kepada rupiah, memperlakukan rupiah dengan benar dan mengetahui ciri-ciri uang rupiah secara baik, menjadi langkah sempurna kita untuk mencintai rupiah dan negara ini seutuhnya. Amiin.

Keluarga dan Upaya Penguatan Basis Pendidikan Anak

Keluarga merupakan basis pendidikan pertama dan utama bagi setiap anak (Hasbi Wahy, 2012: 245) . Melalui   lingkungan keluarga, maka aka...