Friday, December 1, 2017

Pencanangan Desa Cinta Rupiah



Satu tahun yang lalu, tepat pada bulan Oktober 2016, saya dan seorang teman berkesempatan pergi ke Kecamatan Badau yang berada di Kabupaten Kapuas Hulu, Provinsi Kalimantan Barat. Kami saat itu, melakukan penelitian sosial lebih kurang 4 bulan lamanya disana. Kecamatan ini, menarik untuk diteliti karena langsung berbatasan dengan negara tetangga kita, yaitu Malaysia (Serawak). Dan hubungan masyarakat  Badau sendiri dengan masyarakat di Kecamatan Lubok Antu Sarawak masih memiliki ikatan persaudaraan. Karena itu, banyak warga di pagi atau sore hari keluar masuk perbatasan dalam rangka melihat saudara mereka di daerah Badau atau Serawak. Tentunya, setelah mendapat izin dari penjaga perbatasan, baik izin dari pihak Indonesia maupun pihak Malaysia.

Kecamatan Badau sendiri memiliki 9 kelurahan/desa. Dan desa yang paling dekat dengan Serawak (Malaysia) adalah desa Badau, karena langsung berbatasan dengan negara tetangga, maka warga Badau sangat familier dengan uang ringgit. Bahkan sebagian mereka masih menggunakan uang ringgit untuk melakukan transaksi ekonomi disana. “Badau adalah desa yang menggunakan dua mata uang” gumam saya dalam hati. Atas dasar itu, saya tidak heran melihat beberapa spanduk yang bertuliskan Cinta Rupiah, terpasang pada beberapa titik strategis di Kota Kecamatan Badau.

Pada suatu sore, kami berkesempatan duduk di warung kopi yang menyediakan pisang goreng hangat. Sudah menjadi kebiasaan masyarakat setempat duduk-duduk santai di warung kopi, sambil makan pisang goreng hangat. Lalu, tiba-tiba datanglah seorang anak membeli pisang goreng dengan menggunakan uang ringgit. Terlihat penjual pisang goreng enggan dan terpaksa menerima uang ringgit tersebut. Mungkin ia teringat pasal 2 ayat 1 yang menjelaskan setiap pihak wajib menggunakan rupiah dalam transaksi yang dilakukan di wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (PBI No.17/3/PBI/2015). Kembali saya berkata “mungkin sudah kebiasaan masyarakat disini menggunakan uang ringgit” suara saya lirih, nyaris tak terdengar oleh teman disamping.  

Fenomena tersebut menarik hati saya untuk melakukan penelitian kecil-kecilan, disamping tetap melakukan penelitian utama kami. Saya punya keinginan sambil melakukan penelitian utama, sekalian mencari tahu penyebab masih adanya warga Badau yang menyimpan dan menggunakan uang ringgit untuk bertransaksi. Setelah melakukan beberapa kali wawancara dengan warga setempat, dan pengamatan. Saya mempunyai kesimpulan awal, yaitu: Pertama, kemudahan bagi warga Badau untuk keluar masuk perbatasan masing-masing membuat mereka tetap menyimpan uang ringgit; Kedua, keengganan mereka untuk menukarkan uang ringgit menjadi rupiah; Ketiga, terbatasnya tempat penukaran uang resmi di Badau; keempat, masih banyaknya warga tergantung dengan daerah Serawak (Malaysia) baik dalam hal membeli kebutuhan sehari-hari, maupun untuk berobat ke rumah sakit di Serawak dan kelima, para pedagang masih kurang mengerti pentingnya penggunaan uang rupiah untuk transaksi.

Dari kenyataan yang terjadi di Badau tersebut, menunjukkan bahwa proses menumbuhkan kecintaan warga negara Republik Indonesia terhadap rupiah mengalami banyak kendala, khususnya di daerah perbatasan. Dan persoalan tersebut tentu harus diselesaikan dengan strategi yang tepat oleh pihak yang berkompeten. Disamping hal tersebut, tetap juga menjadi tanggung jawab kita bersama. Maka pada kesempatan ini, saya ingin menawarkan konsep yang sebaiknya dilakukan dalam rangka menumbuhkan kecintaan rakyat Indonesia secara umum terhadap rupiah,  salah satunya adalah:  Pencanangan Desa Cinta Rupiah.

Desa Cinta Rupiah

Sudah menjadi pengetahuan bersama bahwa sebagian besar penduduk di Indonesia menetap dan tinggal di desa. Hal ini dilatarbelakangi karena pekerjaan terbanyak rakyat Indonesia ada pada sektor pertanian, perkebunan dan nelayan. Secara sederhana masyarakat pedesaan dapat didefinisikan sebagai sekelompok orang yang mendiami suatu wilayah tertentu yang penghuninya mempunyai perasaan yang sama terhadap adat kebiasaan yang ada, serta menunjukkan adanya kekeluargaan di dalam kelompok mereka, seperti gotong royong dan tolong-menolong.

Sejak beberapa tahun belakangan ini, perhatian pemerintah terhadap pembangunan desa semakin tinggi. Hal tersebut didukung dengan keinginan pemerintah untuk membangun Indonesia lewat desa. Keinginan tersebut juga dibuktikan dengan banyaknya alokasi dana (uang rupiah) yang diperuntukkan untuk desa, misalnya saja program dana desa. Berancang dari kondisi yang terjadi di Badau, dan melihat kondisi kekinian bahwa hampir semua desa di negeri ini mendapatkan puluhan bahkan ratusan juta rupiah dana untuk program desa.

Ironisnya, mereka sedikit sekali “mengenal” uang rupiah secara baik. Akibatnya, sangat wajar kalau uang rupiah palsu sangat mudah beredar di daerah perdesaan. Dan kondisi ini diperparah lagi, karena desa dan pasar tradisional telah lama menjadi target pengedar uang palsu, disebabkan mayoritas penduduk desa pendidikannya rendah, informasi  secara utuh di desa masih kurang, ditambah lagi penduduk desa memiliki prilaku mudah percaya kepada orang (husnudzon) yang masih tinggi. Untuk menghindari hal-hal tersebut, salah satu solusi yang perlu dilakukan adalah pencanangan desa cinta rupiah.

Langkah awal yang perlu dilakukan dalam rangka pelaksanaan program desa cinta rupiah ini bisa dilakukan dengan cara memanfaatkan keunggulan yang masih dimiliki desa, yaitu: adanya ikatan kekeluargaan, masyarakatnya masih sangat menjunjung tinggi adat dan tradisi lokal, patuh pada pimpinan desa atau tokoh masyarakat. Kondisi ini menjadi modal bagi pihak Bank Indonesia untuk menggandeng tokoh masyarakat, tokoh adat, dan tokoh agama dalam melakukan sosialisasi cinta rupiah.

Disamping itu, pihak Bank Indonesia dan pihak berkompeten diharapkan melakukan seminar sehari yang dilaksanakan langsung di desa (balai desa) untuk para petani dan para nelayan. Materinya mulai dari memperkenalkan uang rupiah, ragam dan jenisnya, maupun sejarah serta makna gambar uang rupiah.


Program desa cinta rupiah, hendaknya juga diperkuat dengan membuat poster dan spanduk terkait pengenalan uang rupiah, dorongan untuk menjaga uang rupiah agar tetap dalam kondisi baik, peringatan untuk selalu waspada terhadap modus pemalsuan uang dan upaya mengenal keaslian uang rupiah dengan langkah 3 D (Dilihat, Diraba, dan Dirawang), dan anjuran selalu menggunakan uang rupiah setiap transaksi di dalam wilayah Indonesia.

Program desa cinta rupiah yang dilaksanakan oleh Bank Indonesia dan pihak berkompeten juga harus memiliki manfaat berganda bagi daerah yang lain, misalnya dengan cara memberikan penghargaan kepada desa yang memenuhi kategori cinta rupiah, tentunya setelah dilakukan survei. Adapun kategori surveinya, misalnya: pertama, desa yang memiliki banyak warga yang mengenal sejarah uang rupiah; kedua, desa yang memiliki banyak warga yang mampu menjaga uang rupiahnya tetap dalam kondisi baik; ketiga, desa yang warganya selalu bertransaksi menggunakan uang rupiah; keempat, desa yang konsisten melaksanakan program sosialisasi cinta rupiah pada kalangan warganya; dan kelima, bentuk dan model sosialisasi yang spetakuler dan khas yang dilakukan desa sebagai wujud cinta rupiah.  

Alhasil, diharapkan dengan upaya-upaya seperti yang telah disampaikan sebelumnya, diharapkan mampu menjadikan seluruh desa dan warganya memiliki kecintaan yang tinggi pada rupiah. Bentuk cinta dan komitmen tinggi untuk selalu menggunakan uang rupiah lah yang akan mampu membuat semakin kuat nilai tukar uang rupiah. Dan hal ini secara langsung menjadi langkah cerdas kita dalam upaya membela negara tanpa senjata. Semoga.

No comments:

Post a Comment

Silahkan jika anda yang ingin komentar, namun tolong gunakan bahasa yang sopan

NKRI Bersyariah, Perlukah?

Tulisan Denny JA terkait dengan “NKRI Bersyariah atau Ruang Publik yang Manusiawi?” pada Link: http://pwi.or.id/index.php/berita-pwi/111...