Monday, December 11, 2017

Perempuan dan Laki-Laki dalam Relasi yang Harmonis, Mungkinkah?



Perempuan merupakan ibu kehidupan. Dari rahim perempuanlah, kehidupan juga dilahirkan, kehidupan diperjuangkan, dan kehidupan mendapatkan hakekat dan martabat. Peradaban dunia tak bisa hidup dengan penuh kebanggaan tanpa hadirnya sosok perempuan. Nafas perempuan selalu menghadirkan kedamaian, kesejukan, dan ketentraman (Eti Nurhayati, 2012).  Karena itu, Nabi Muhammad SAW menilai perempuan sebagai tiang (kehidupan) negara. Nietzsche bahkan berani menyebut seorang perempuan mempunyai kecerdasan besar. Ajaran Budha melihat ibu sebagai pura bagi kehidupan manusia. Dan para guru bijak zaman aksial (900-200 SM) mewartakan bahwa perempuan merupakan sosok pembela rasa; mengedepankan cinta, keadilan, kemanusiaan, kesederajatan, dan melampaui egoisme dan egosentrisme.

Disisi lain, peradaban manusia telah membuat gambaran tentang perempuan dengan cara pandang ambigu dan paradoks. Perempuan dipuja sekaligus direndahkan. Sejak kecil anak perempuan dikendalikan oleh ayah, saudara-saudara laki-laki, paman, atau walinya. Setelah dewasa perempuan dikendalikan oleh suaminya, dan jika berkarir dikendalikan oleh majikannya dan peraturan kerja yang patriarkis. Pandangan-pandangan paradoks, ambigu, sekaligus penuh dengan nuansa yang merendahkan perempuan tersebut, memperlihatkan bahwa perempuan hanya dilihat semata-mata dari aspek tubuh, seks, dan biologis. Perempuan hanya dipandang sebagai benda, barang (mata’un), dan kesenangan (mut’ah). Pandangan seperti itu jelas telah menafikan jiwa, pikiran, dan energi perempuan dan ini terjadi selama berabad-abad.

Padahal ilmu pengetahuan telah menjelaskan bahwa dalam tubuh perempuan sesungguhnya tersimpan seluruh potensi besar kemanusiaan, layaknya manusia berjenis kelamin laki-laki. Perempuan memiliki otak dan hati nurani dengan tingkat kecerdasan dan kepekaan yang relatif setara dengan laki-laki. Energi fisik perempuan juga tidak lebih lemah dari energi fisik laki-laki. Fakta dalam dunia pendidikan, ilmu pengetahuan, ekonomi, profesi, budaya, dunia spiritual, dan peradaban manusia sesungguhnya juga memperlihatkan realitas ini. Akan tetapi seluruh potensi kemanusiaan perempuan itu tenggelam atau ditenggelamkan atau dilupakan oleh dan dari pusaran sejarah sosial yang didominasi oleh dunia maskulinisme.

Bahayanya Peradaban patriarkisme bagi Perempuan

Kaum perempuan direndahkan dan ditindas, menurut Budhy Munawar Rachman (2004) terjadinya, disebabkan oleh: pertama, Ideologi patriarki dan budaya patriarki (kekuasaan kaum laki-laki), di mana laki-laki superior (penguasa perempuan) dan perempuan inferior; kedua, Faktor struktur hukum yang meliputi substansi hukum (berisi semua peraturan perundang-undangan) baik tertulis maupun tidak tertulis yang berlaku bagi lembaga tinggi negara maupun warga negara, struktur hukum (penegak hukum, polisi, jaksa, hakim, pengacara dan prosedur penegakannya), budaya hukum yang masih memposisikan perempuan sebagai manusia kelas dua (the second class); dan ketiga, Faktor interpretasi agama dan budaya yang kurang tepat, sehingga memposisikan perempuan secara tidak adil dan bias gender.

Hal senada juga disampaikan oleh Siti Musdah Mulia, yang melihat penyebab ketidakadilan gender terhadap perempuan terjadi disebabkan tiga faktor utama, yaitu: pertama, dominasi budaya patriaki; kedua, interpretasi ajaran agama sangat didominasi pandangan yang bias gender dan bias patriaki; dan ketiga, hegemoni negara yang begitu dominan. Melihat analisis dari para pakar terhadap latar belakang terjadinya bias kesetaraan hubungan perempuan dan laki-laki tersebut, lebih banyak didasari oleh ideologi patriarki dan budaya patriarki yang ada di tengah-tengah masyarakat. Konsep patriarki sendiri berbeda dengan patrilinial. Patrilinial diartikan sebagai budaya di mana masyarakatnya mengikuti garis laki-laki seperti anak bergaris keturunan ayah, contohnya Habsah Khalik; Khalik adalah nama ayah dari Habsah. Sementara patriarki memiliki makna lain yang secara harfiah berarti “kekuasaan bapak” (role of the father) atau “partiakh” yang ditujukan untuk pelabelan sebuah “keluarga yang dikuasai oleh kaum laki-laki”.

Secara terminologi kata patriarki digunakan untuk pemahaman kekuasaan laki-laki, hubungan kekuasaan dengan apa laki-laki menguasai perempuan, serta sistem yang membuat perempuan tetap dikuasai melalui bermacam-macam cara. Ironisnya, norma-norma moral, sosial dan hukum pun lebih banyak memberi hak kepada kaum laki-laki dari pada kaum perempuan, justru karena alasan bahwa kaum laki-laki memang lebih bernilai secara publik dari pada perempuan. Dalam perkembangannya patriarki ini sekarang telah menjadi istilah terhadap semua sistem kekeluargaan maupun sosial, politik dan keagamaan yang merendahkan, bahkan menindas kaum perempuan mulai dari lingkungan rumah tangga hingga masyarakat.

Agenda untuk Mengakhiri Sistem yang Tidak Adil bagi Perempuan

Bias kesetaraan hubungan perempuan dan laki-laki yang berujung pada sistem yang memposisikan perempuan secara tidak adil, sudah selayaknya diakhiri. Dan menurut  Mansoer  Fakih (1996: 64) ada beberapa agenda untuk mengakhiri sistem yang tidak adil bagi perempuan, yaitu: pertama, melawan hegemoni yang merendahkan perempuan dengan melakukan dekonstruksi terhadap tafsiran agama; kedua,  perlu kajian-kajian kritis untuk mengakhiri bias dan dominasi laki-laki dalam penafsiran agama; dan ketiga, perlu dilakukan terus menerus counter ideology dan counter hegemony.

Agenda besar dalam rangka mengakhiri biar gender tersebut, sudah semestinya dikerjakan secara bersama-sama dengan penuh kesungguhan. Kekeliruan dalam menafsirkan dalil-dalil agama harus dihilangkan dengan upaya mempertanyakan gagasan besar, seperti kedudukan perempuan dalam hirarki agama dan organisasi keagamaan, sampai yang dianggap kecil, seperti pembagian kerja dalam rumah tangga. Kajian kritis dengan mengkombinasikan studi, penelitian, investigasi, analisis sosial, pendidikan, serta aksi advokasi untuk membahas isu perempuan, termasuk menciptakan kemungkinan bagi kaum perempuan untuk membuat, mengontrol dan menggunakan pengetahuan mereka sendiri, sudah sepantasnya dikembangkan. Counter ideology dan counter hegemony harus menjadi tekad kita bersama demi memuliakan posisi perempuan sebagai ibu kehidupan.

Terakhir, kita semua harus punya kesimpulan yang sama bahwa  perempuan dan laki-laki telah diberi potensi yang sama untuk dapat berkiprah dan beramal secara sinergis dalam asas kemitraan, kerja sama, saling tolong menolong, saling mendukung, saling memberi penguatan dalam suatu kehidupan di masyarakat (QS.Al-Nisa [4]: 7, 32-34,155). Pola kehidupan sinergis itu sudah menjadi sunnatullah dalam setiap komunitas, kurun, dan generasi manusia karena Allah menciptakan kemanusiaan manusia yang saling bergantung (interdependency), saling berhubungan (interconnection), dan saling melengkapi (intercomplementary). Tidak ada seorang manusiapun yang sempurna, lahir, dan dapat hidup sendiri, tanpa kehadiran manusia lain (QS Al-Nisa [4]:1; QS Al-A’raf [7]:189 ).

Allah telah merencanakan bahwa antara perempuan dan laki-laki terdapat perbedaan-perbedaan dan persamaan-persamaan. Apabila Allah telah menciptakan berbagai organ yang berbeda dalam satu tubuh manusia, seperti telinga, mata, mulut, tangan, kaki, dan lain-lain dalam bentuk dan fungsi yang berbeda, bukanlah berarti bahwa Allah telah mengutamakan satu organ dari organ lainnya (Eti Nurhayati, 2012). Seperti saat mata difungsikan, tidak berarti mengutamakan mata dari organ tubuh lainnya dan boleh memperlakukan semena-mena terhadap organ tubuh lainnya, karena semua organ tubuh yang berbeda itu berfungsi sesuai dengan karakteristiknya masing-masing, dan masing-masing organ tidak dapat berfungsi sendiri-sendiri, tetapi saling berkaitan untuk melahirkan kehidupan.

Dengan demikian, setiap organ yang berbeda itu harus bersinergi untuk menopang kehidupan dan memenuhi hajat manusia. Analogi tersebut harus digunakan untuk memahami eksistensi perbedaan yang ada pada kita, perempuan dan laki-laki. Perbedaan yang terdapat pada eksistensi perempuan dan laki-laki sama sekali tidak mengindikasikan yang satu menduduki posisi lebih unggul dan penting, dan boleh memperlakukan dengan kejam, tidak adik dan menindas terhadap yang lain. Kesempuraan eksistensi manusia “hanya” terjadi pada perpaduan sinergis antara perempuan dan laki-laki dalam relasi yang harmonis. Semoga.

Keluarga dan Upaya Penguatan Basis Pendidikan Anak

Keluarga merupakan basis pendidikan pertama dan utama bagi setiap anak (Hasbi Wahy, 2012: 245) . Melalui   lingkungan keluarga, maka aka...