Monday, December 11, 2017

Sahabat Para Petani dalam Meningkatkan Perekonomian Daerah


Sore itu, Pak Husen pulang ke rumahnya dengan senyum yang mengembang, menghiasi wajahnya. Hari itu terasa begitu indah bagi Pak Husen, maklum dia baru saja menjual getah karetnya pada salah satu koperasi yang ada di daerahnya. Dan yang menariknya, pihak koperasi tersebut senantiasa membeli getah karet Pak Husen dengan harga yang tinggi. Koperasi itu bernama Koperasi Serba Usaha Keluarga Mandiri Sejahtera atau yang lebih dikenal dengan sebutan KSU Keluarga Mandiri Sejahtera, Aceh Tamiang. Dan Pak Husen merupakan salah satu anggota dari koperasi ini, sejak lima tahun yang lalu.
KSU Keluarga Mandiri Sejahtera, Aceh Tamiang tersebut, merupakan koperasi yang bergerak dalam bidang pertanian yang melakukan jual beli getah karet. Koperasi ini didirikan berdasarkan azas kekeluargaan, dengan tujuan untuk meningkatkan perekonomian para anggotanya dan ekonomi daerah. Keberadaan KSU Keluarga Mandiri Sejahtera berdampak positif, baik itu dari segi modal, ilmu pengetahuan, dan pasar, khususnya bagi para anggotanya.
Bahkan dari pengamatan penulis secara langsung, menunjukkan bahwa pendapatan usaha tani karet anggota koperasi ini lebih besar, bila dibandingkan dengan pendapatan usaha tani karet bukan anggota koperasi, yaitu: sebesar Rp.2.190.072/bulan dengan Rp.1.583.781/bulan, dengan perbandingan pendapatan sebesar Rp.606.291/bulan. Karena itu, sangat wajar sore itu wajah Pak Husen berseri-seri, hatinya gembira, dan rasa lelah selama ini, dalam merawat kebun karetnya terasa tergantikan dengan memperoleh imbalan yang sangat pantas.
Koperasi, Engkau adalah Sahabat Para Petani
Hasil penjualan getah karet kali ini, mempunyai arti banyak bagi Pak Husen, maklum bulan Juni, dan bulan Juli tahun ini, banyak sekali kebutuhan keuarga, mulai biaya untuk lebaran Idul Fitri, sampai dengan biaya sekolah untuk anak-anaknya. Pak Husen sendiri memiliki 4 orang anak, dua diantaranya akan melanjutkan sekolah pada tingkat Sekolah Menengah Umum (SMU) dan Sekolah Menengah Pertama (SMP) dan yang lain, akan naik kelas 6 dan kelas 4 Sekolah Dasar (SD), tentu biaya untuk semua itu tidak sedikit, dan alhamdulillah hasil penjualan karet selama ini mampu mencukupi kebutuhan tersebut.
Pak Husen kembali mengenang, awal ia menentukan pilihan untuk menjadi anggota Koperasi Serba Usaha Keluarga Mandiri Sejahtera, Aceh Tamiang. Ia ingat benar, saat itu banyak tawaran berdatangan untuk mengajaknya menjadi anggota koperasi yang ada di daerahnya. Pilihan tersebut terasa berat, karena itu, Pak Husen mencari informasi yang lengkap terkait koperasi yang ada di daerahnya, dari informasi yang ada tersebut, lalu Pak Husen menentukan pilihan, yaitu bergabung dengan KSU Keluarga Mandiri Sejahtera Aceh Tamiang, dengan pertimbangan diantaranya karena kesamaan jenis usaha (karet), juga disebabkan karena manajeman tata kelola dari koperasi ini yang terkenal baik dan berkualitas.
Ternyata pilihan Pak Husen itu tepat, mengingat Provinsi Aceh dan Kabupaten Aceh Tamiang sendiri memiliki banyak koperasi. Namun sayangnya, koperasi-koperasi itu banyak yang mati. Bahkan dari catatan yang ada, koperasi yang ada di Aceh sebanyak 7.861 koperasi. Dari 7.861 koperasi, ternyata 3.682 di antaranya mati (Serambi Indonesia, 3.682 Koperasi di Aceh Mati, diakses, 15 Mei 2017). Dan kalau mau jujur, banyak faktor yang menyebabkan koperasi di Aceh mati, mulai dari permasalahan: 1) lemahnya kualitas sumberdaya manusia khususnya kualitas manajemen; 2) kegiatan koperasi tidak sesuai dengan kebutuhan anggota sehingga koperasi berjalan atas kehendak pengurus semata, ini berakibat kepada rendahnya partisipasi anggota karena anggota tidak merasakan manfaat sebagai anggota koperasi; 3) masih ditemukan koperasi tidak melibatkan anggota dalam aktifitasnya (koperasi dikendalikan oleh pemilik modal).
Sementara itu, kelemahan koperasi yang ada di Aceh, antara lain disebabkan oleh: 1) pada penentuan kepengurusan dan manajemen koperasi masih dipengaruhi oleh rasa tenggang rasa sesama masyarakat bukan didasarkan pada kualitas kepemimpinan dan kewirausahaan; 2) budaya manajemen masih bersifat feodalistik paternalistik (pengawasan belum berfungsi); 3) anggota koperasi di pedesaan pada umumnya sangat heterogen, baik dari sisi budaya, pendidikan, maupun lingkungan sosial ekonominya; 4) usaha yang dilakukan tidak fokus, akibatnya pengembangan aset koperasi sangat lambat dan koperasi sulit untuk berkembang; 5) masih rendahnya kualitas pelayanan koperasi terhadap anggota maupun non anggota; dan 6) belum berperannya koperasi sebagai penyalur sarana produksi pertanian di pedesaan dan sebagai penampung hasil produksi pertanian.
Pak Husen semakin haru dan bangga, setelah mengetahui bahwa Koperasi Serba Usaha Keluarga Mandiri Sejahtera, Aceh Tamiang, yang merupakan wadah ia bernaung selama ini, sudah dua kali (secara berturut-turut) mendapat prestasi dan penghargaan dari Pemerintah Aceh (Provinsi Aceh) sebagai salah satu dari lima koperasi terbaik dan berprestasi di Aceh dalam rangka meningkatkan perekonomian para anggotanya, dan perekonomian daerah. Pak Husen pun memberikan komentar kepada penulis, terkait dengan penghargaan yang diperoleh KSU Keluarga Mandiri Sejahtera, bahwa “Penghargaan ini sebagai bukti bahwa koperasi yang berjalan sesuai dengan kaedah dan aturan yang baik, akan memberikan pengaruh besar, tidak hanya bagi para anggota dan daerah dimana koperasi itu berada. Namun, akan mampu juga mengangkat wibawa dari koperasi itu sendiri” ujarnya.
Komentar tersebut, menurut penulis merupakan kepedulian Pak Husen dan rasa bangganya menjadi anggota dari koperasi yang benar-benar menjadi sahabat para petani. Kebahagian Pak Husen selayaknya menjadi gambaran kebahagian dari para petani Indonesia dan penduduk desa. Maklum negara ini, dikenal sebagai negara agraris dan sebagian besar penduduk mencari nafkah dari sektor pertanian. Karena itu, pembangunan ekonomi harus memulainya dari ekonomi pedesaan. Untuk memajukan ekonomi di daerah sebagai percepatan pembangunan ekonomi yang berbasis kerakyatan, maka sudah sepantasnya dikembangkan koperasi sebagai sokoguru perekonomian masyarakat.  
Strategi Pengembangan Koperasi
Dalam era globalisasi pada saat ini dan masa-masa mendatang untuk menyongsong liberalisasi perdagangan peranan pemerintah makin kecil, dengan demikian, peran serta pihak swasta, yaitu perusahaan-perusahaan besar sangat diperlukan untuk mengisi dan melengkapi berbagai program pemerintah. Pihak pengusaha yang berada pada posisi yang kuat dapat membantu koperasi pada posisi yang lemah dalam bentuk jaringan kemitraan.
Hubungan tersebut dapat memberikan keuntungan kepada koperasi, yaitu: Pertama, transfer teknologi dan penyediaan masukan sehingga hasil koperasi di pedesaan mampu bersaing dengan produk lain yang dihasilkan dengan menggunakan masukan dan teknologi yang lebih unggul; Kedua, dapat memperoleh informasi dan peluang pasar secara cepat; Ketiga, dapat membuka akses terhadap modal dan pasar; dan keempat, adanya jaminan dan kepastian pasar bagi produk industri kecil dan industri rumah tangga. Semoga dengan kemitraan dan kebersamaan tersebut dapat menjadikan koperasi sebagai sahabat para petani secara nyata, kuat dan sekaligus memberikan arti bagi peningkatan ekonomi para anggotanya dan ekonomi daerah. Semoga.

No comments:

Post a Comment

Silahkan jika anda yang ingin komentar, namun tolong gunakan bahasa yang sopan

NKRI Bersyariah, Perlukah?

Tulisan Denny JA terkait dengan “NKRI Bersyariah atau Ruang Publik yang Manusiawi?” pada Link: http://pwi.or.id/index.php/berita-pwi/111...