Wednesday, January 31, 2018

VivoBook Pro, Pilihan Tepat untuk Generasi Now



Sebagian besar dari kita, tentu tidak asing lagi dengan karya besar ASUS. ASUS adalah sebuah perusahaan berbasis di Taiwan yang memproduksi komponen komputer seperti papan induk, kartu grafis, dan notebook. Dan ASUS belakangan ini, mulai memproduksi PDA, Telepon genggam, monitor LCD, tablet dan produk komputer lainnya. Banyak dari produk dari perusahaan ASUS telah mencuri perhatian para pencinta komputer, salah satunya adalah produk VivoBook Pro N580, dan produk ini telah menguncang dunia per-komputer-an.

ASUS VivoBook Pro N580 sangat wajar menjadi pusat perhatian banyak orang, karena mengedepankan kualitas dan gaya. Kita tahu bahwa di zaman sekarang ini, banyak pekerjaan yang menuntut waktu penyelesaian yang cepat dan akurat, karena itu dibutuhkan laptop kerja yang memiliki spesifikasi yang kuat dan berkarakter. Hadirnya ASUS VivoBook Pro N580 menjadi jawaban penting dari permasalahan tersebut. 


Sebelum mengulas Asus Vivobook Pro ada baiknya terlebih dahulu melihat tabel spesifikasi dari Asus Vivobook Pro ini:
 



Dari tabel spesifikasi tersebut, menunjukkan bahwa ASUS VivoBook Pro N580 tidak hanya menjadi laptop berperforma tinggi dan ringan, akan tetapi ditenagai oleh prosesor Intel® Core™ ke-7. Didukung dengan FHD display dengan teknologi wide-view, 72% NTSC dan 100% sRGB dengan warna gamut, graphics NVIDIA® GeForce® GTX 1050 yang sering digunakan dalam laptop gaming, audio berkualitas tinggi yang dikembangkan bersama Harman Kardon dan teknologi pendinginan dan fast-charge terbaru.

Tidak hanya sampai disitu kelebihan dari laptop ini. ASUS VivoBook Pro N580 juga memperlihatkan keindahan dan estetika yang tinggi. Setiap inci dari VivoBook Pro 15 N580 dibuat menggunakan aluminium berkekuatan tinggi yang telah menjalani serangkaian proses manufaktur yang rumit hingga akhirnya mencapai bentuk akhir yang ramping dan elegan. Dengan profil 19.2 mm dan berat keseluruhan 2,2kg, VivoBook Pro 15 adalah model tertipis dan ringan yang ditawarkan di seri VivoBook Pro.

Dari segi performance, Laptop VivoBook Pro N580 ini tetap mengedepankan kenyamaan dan kualitas dengan kata lain kinerja terdepan menjadi ukuran dari ASUS dalam melahirkan produknya. Dasar inilah yang membuat ASUS VivoBook Pro 15 N580 memiliki performa tinggi, apalagi didukung dengan RAM 8GB DDR4 yang 33% lebih cepat dari DDR3, sehingga mempermudah kinerja kita saat multitasking.

VivoBook Pro diciptakan untuk insan indutri kreatif yang memang membutuhkan laptop dengan performa terbaik, karena telah dilengkapi dengan SSD berkinerja tinggi, fingerprint dan video memory 4GB DDR5. Tidak hanya itu, VivoBook Pro 15 juga terdepan dalam menawarkan kecepatan akses data karena telah dilengkapi dual band 802.11ac Wi-Fi untuk kecepatan 6x lebih cepat dari 802.11.

VivoBook Pro juga dilengkapi dengan graphics NVIDIA® GeForce® GTX 1050 yang sering digunakan dalam laptop gaming, membuat tampilan visual VivoBook Pro 15 N580 sangat jernih, menjadikannya laptop sempurna saat bermain game, menonton film atau saat mengedit video. Laptop Ini memiliki kekuatan untuk menangani tugas grafis yang paling banyak sekalipun dengan mudah.

Dan jangan takut menggunakan VivoBook Pro 15 N580 dalam waktu yang lama, sebab laptop ini dilengkapi dengan sistem pendinginan yang kuat untuk memastikan kinerja laptop yang mulus dan stabil saat memproses beban berat seperti saat multitasking atau game maraton. Laptop ini memiliki desain dual-fan cerdas dengan delapan pilihan kecepatan yang otomatis dan efektif menyesuaikan pendinginan maksimum dengan sedikit noise. Penempatannya yang compact, hypercool, dan modul thermal dual-copper berhasil membuat pipa panas dan kipas pada sistem meningkatkan kinerja CPU dan GPU secara independent.

VivoBook Pro 15 N580 menggabungkan hardware dan software yang dioptimalkan untuk memberikan visual terbaik di kelasnya. Panel FHD dengan teknologi wide-view, 72% NTSC dan 100% sRGB dengan warna gamut, dan teknologi tampilan ASUS Splendid yang memberikan warna yang lebih kaya, lebih dalam dan lebih akurat untuk semua jenis konten.

VivoBook Pro 15 N580 memberikan audio yang luar biasa yang dikembangkan bersama oleh Harman Kardon. Speaker yang kuat dengan ruang 8cc dan teknologi Smart Amplifier membantu memaksimalkan volume sambil tetap menjaga kualitas suara sejernih kristal. Speaker stereo dualcoil memberikan suara paling keras dan paling jernih dari perangkat tipis dan ringan. Hasilnya adalah sistem suara yang 320% lebih keras dari perangkat serupa, dengan rentang frekuensi lebih lebar untuk memastikan Anda mendengar suara bass dan treble yang kaya.

ASUS VivoBook Pro 15 memiliki keyboard full-size backlit yang sempurna untuk pengaturan cahaya rendah. Keyboardnya yang kokoh dengan tombol berjarak hanya 1.4mm menawarkan pengetikan yang tentunya ergonomis dan nyaman. ASUS VivoBook Pro 15 memiliki keyboard full-size backlit yang sempurna untuk pengaturan cahaya rendah. Keyboardnya yang kokoh dengan tombol berjarak hanya 1.4mm menawarkan pengetikan yang tentunya ergonomis dan nyaman.

VivoBook Pro 15 dirancang untuk produktivitas dan hiburan bebas gangguan. Baterai berkapasitas tingginya bisa diisi dengan cepat hingga 60 persen hanya dalam waktu 49 menit.
ASUS VivoBook Pro 15 menyertakan port USB 3.1 Gen 1 dengan konektor USB Type-C ™ yang mendukung kecepatan transfer data hingga 5Gbps dan output UHD 4K untuk display eksternal. Desain konektor Tipe-C USB reversibel membuat konektifitas dengan perangkat apapun mudah dan cepat. Seiring dengan port USB 3.1 Gen 1, VivoBook Pro 15 juga menawarkan port USB 3.0 dan port HDMI serta card reader untuk kompatibilitas tanpa kerumitan dengan berbagai periferal, display dan proyektor.

Dengan beragam kelebihan dan keunggulan yang ditawarkan dari ASUS VivoBook Pro N580 ini, maka sangat pantaslah Lapto ini dihargai Rp. 15.299.000,-. Dan rasanya harga laptop ini, berbanding lurus dengan kepuasan yang diberikan kepada penggunanya. Karena itu, Generasi Now yang terkenal dengan kegigihan dan memiliki multitalenta, sangat tepat untuk menggunakan  ASUS VivoBook Pro N580 ini. Dan akhirnya satu kata yang tepat untuk laptop ini adalah kalau mau gaya dan kualitas yang tinggi ya… ASUS VivoBook Pro N580!

Tuesday, January 30, 2018

Pandangan Islam terhadap Riba

AssalamuƔlaikum wr wb

Jumpa lagi teman-teman.

Mari kita lanjutkan pembahasan riba, kali ini kita akan mengkaji mengenai Riba. Sebelumnya teman-teman bisa baca di link http://www.harjonidesky.com/2018/01/ragam-atau-macam-macam-riba.html dan di link http://www.harjonidesky.com/2018/01/riba-dalam-sistem-keuangan-dari.html.


Sejak zaman Nabi Muhammad SAW, riba telah dikenal pada saat turunnya ayat-ayat yang menyatakan larangan terhadap transaksi yang mengandung riba sesuai dengan masa dan periode turunnya ayat tersebut sampai ada ayat yang melarang dengan tegas tentang riba. Bahkan istilah dan persepsi tentang riba begitu mengental dan melekat di dunia Islam. Oleh karena itu, terkesan seolah-olah doktrin riba adalah khas agama Islam. Akan tetapi menurut seorang Muslim Amerika, Cyril Glasse, dalam buku ensiklopedinya, tidak diberlakukan di negeri Islam modern manapun, sementara itu, kebanyakan orang tidak mengetahui bahwa di agama Kristen pun, selama satu melenium, riba adalah barang terlarang dalam pandangan theolog, cendikiawan maupun menurut undang-undang yang ada. 

Kegiatan transaksi yang mengandung riba merupakan kegiatan transaksi yang secara tegas diharamkan bahkan pengharamannya telah menjadi aksioma dalam ajaran Islam. Riba merupakan transaksi yang mengandung unsur eksploitasi terhadap para peminjam (debitor) bahkan merusak akhlak dan moralitas manusia. Pengharaman ini tidak hanya berlaku pada agama Islam saja, akan tetapi dalam agama-agama samawi juga melarangnya bahkan mengutuk pelaku riba. Plato (427-347 SM) misalnya termasuk orang yang mengutuk para pelaku pelipat gandaan uang (Muhammad dan R. Lukman Fauroni, 2002: 152).

 Sedikit atau banyaknya riba, memang masih menjadi perdebatan, hal ini dikerenakan bahwa riba Jahiliyah yang dengan jelas dilarangnya riba adalah yang berlipat ganda (ad'afan mudha'afah). Landasan dari riba dalam al-Qur'an surat al-Imran ayat 130: yang artinya: "Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan riba berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapatkan keberuntungan" (Departeman Agama Republik Indonesia, 1994:52)

Tetapi bila ditinjau dari keseluruhan ayat-ayat riba, seperti al-Baqarah ayat 275 (mengharamkan riba), ayat 276 masih dalam surat al-Baqarah menyatakan bahwa Allah menghapus keberkahan riba dan demikian pula dalam surat al-Baqarah ayat 278-279, yang menegaskan tentang pelarangan riba, meskipun sedikit pengambilan bunga (tambahan) tersebut tetap dilarang, hal ini menunjukkan bahwa tujuan ideal al-Qur'an adalah menghapus riba sampai membersihkan unsur-unsurnya. (Ahmad Sukarja dalam H.Chuzaiman T. Yanggo dan H.A. Hafiz Anshary AZ, 1997:39-40).

Dalam surat al-Baqarah ayat 278-279 menjelaskan secara tegas terhadap pelarangan pelaku riba: Dalam ayat ini Allah menganjurkan hamba-Nya yang beriman supaya menjaga dirimu dalam taqwa, dalam tiap gerak, langkah, tutur kata dan amal perbuatan supaya benar-benar dijalan Allah dan tinggalkan sisa hartamu (riba) yang masih ada ditangan orang, selebihnya dari apa yang kalian berikan kepada mereka, jika kalian benar-benar beriman, percaya syari'at tuntunan Allah dan melakukan segala yang diridha'i-Nya dan menjauh dari semua yang dilarang dan dimurkakan-Nya. 

Ahli-ahli tafsir menyebut di sini adalah kejadian pada Bani Amr bin Umar dari suku Tsaqief dan Bani al-Mughirah dari suku Makhzum, ketika di masa Jahiliyah terjadi hutang piutang riba, kemudian ketika Islam datang, suku Tsaqief akan menuntut kekurangan riba yang belum dilunasi tetapi banul Mughirah berkata, "Kami tidak akan membayar riba dalam Islam, maka gubernur Makkah Attab bin Usaid menulis surat kepada Rasulullah saw, surat tersebut berisi mengenai kejadian hutang piutang antara Bani Amr bin Umar dari suku Tsaqief dengan Bani Mughirah dari suku Makhzum, maka turunlah ayat 278-279 dari surat al-Baqarah ini, maka Bani Amr bin Umar berkata, "Kami tobat kepada Allah dan membiarkan sisa riba itu semuanya. (Salim Bahreisy dan Said Bahriesy, 1993: 506:507).

Tampaknya pelarangan riba dalam al-Qur'an datang secara bertahap seperti larangan minum khamar. Dalam surat al-baqarah merupakan ayat riba yang terakhir dan para ahli hukum Islam dan ahli tafsir tidak ada yang membantahnya. Berbagai riwayat yang dikutip oleh mufassir ketika mereka menjelaskan sebab turunnya kelompok ayat ini menyebutkan bahwa ayat tersebut merupakan ketegasan atas praktek riba yang ditampilkan antara penduduk Makkah dan penduduk Taif.

Thursday, January 25, 2018

Ragam atau Macam-macam Riba

Assalamu'alaikum Wr Wb

Semoga kita senantiasa selalu diberikan taufiq dan hidayah oleh Allah SWT Sang Memiliki Alam Semesta ini, Amin3.

Sesuai dengan janji saya, maka hari ini kita akan coba sedikit mengkaji mengenai Ragam atau Macam-Macam Riba. Tulisan ini pada dasarnya merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya yang dapat teman-teman lihat di http://www.harjonidesky.com/2018/01/riba-dalam-sistem-keuangan-dari.html


Pada dasarnya riba terbagi menjadi dua macam yaitu riba akibat hutang piutang yang telah dijelaskan tentang keharamannya dalam al-Qur'an, dan riba jual beli yang juga telah dijelaskan boleh dan tidaknya dalam bertransaksi dalam as-Sunnah.
a.    Riba akibat hutang-piutang disebut Riba Qard, yaitu suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang disyaratkan terhadap yang berhutang (muqtarid), dan Riba Jahiliyah, yaitu hutang yang dibayar dari pokoknya, karena si peminjam tidak mampu membayar hutangnya pada waktu yang ditetapkan (lihat pada Muhammad SyafiĆ­ Antonio, 1999:77-78) 
b.    Riba akibat jual-beli disebut Riba Fadl, yaitu pertukaran antar barang sejenis dengan kadar atau takaran yang berbeda dan barang yang dipertukarkan termasuk dalam jenis barang ribawi.
c.    Dan Riba Nasi'ah, yaitu penangguhan atas penyerahan atau penerimaan jenis barang ribawi yang diperlukan dengan jenis barang ribawi lainnya. Riba nasi'ah muncul dan terjadi karena adanya perbedaan, perubahan, atau tambahan antara yang diserahkan saat ini dan yang diserahkan kemudian (Lihat pada Tim Pengembangan Syari'ah institut bankir Indonesia, Konsep, Produk dan Implementasi Operasional Bank Syari'ah, Djambatan, 2002 hal. 39-40)
Tabel 1. Tipologi Riba Menurut Abu Zahrah dan Yunus al-Mishri

RIBA
TRANSAKSI
JENIS
UNSUR-UNSUR
KETERANGAN
Pinjam Meminjam
Riba Nasi'ah
Penundaan dan Tambahan
Sepakat tentang
haramnya jika dzulm
dan eksploitatif
Jual Beli
Riba Nasa'
Riba Fadl
Penundaan dan Tambahan
Masih ihtilaf
Sumber: Muslim, 2005: 132
 
Riba nasi'ah dalam definisi sebagaimana yang dipraktekkan masyarakat Arab Jahiliyyah dengan ciri utama berlipat ganda dan eksploitatif telah disepakati keharamannya oleh para ulama. Sementara yang kini menjadi perdebatan adalah riba nasi'ah yang tidak berlipat ganda dan dalam taraf tertentu dipandang tidak eksploitatif, sebagaimana yang banyak diperbincangkan mengenai bunga bank (interest). Sementara pada riba fadl masih diperdebatkan hukumnya di antara ulama dan cendekiawan Muslim. Hassan merupakan salah satu ulama yang tidak setuju dengan pengharamannya dengan berbagai alasan. 

Pakar Tafsir yang membolehkan riba fadl adalah at-Thabari (w.310 H0. Sedangkan tokoh sahabat dan tabi'in yang membolehkan riba fadl adalah Ibn Abbas (w.68 H0, Ibn Umar (w.73 H), Zaid bin Arqam (w. 66 H), Usamah bin Zaid (w. 54 H), Urwah bin Zubair (w. 94 H), Ikrimah (w. 105 H), ad-Dhahhak (w.105 H), dan Sa'id Ibn Musayyab (w. 94 H0. Alasan para ulama ini adalah hadits "Bahwasanya riba itu hanya pada riba nasi'ah". Menurut para ulama ini (Ridho, 1374 H; 113-114), riba fadl itu adalah kelebihan harga transaksi barang sejenis bukan karena penundaan atau penyegeraan pembayaran.  

Riba yang haram menurut mereka adalah riba yang mengandung tambahan karena ada penundaan waktu (nasi'ah). Namun demikian, ulama mutaqaddimin pada umumnya sepakat tentang keharamannya. Para ulama tidak sepakat tentang apakah selain yang enam itu ada yang termasuk barang ribawi atau tidak. Golongan Dhahiriyah berpendapat bahwa riba itu hanya terjadi pada enam barang tersebut, sementara empat imam madzhab fiqh berpendapat bahwa barang ribawi tidak hanya enam barang yang disebutkan dalam hadits tersebut, tetapi termasuk juga barang lain yang sejenis atau memiliki 'illat yang sama (Lihat pada Muslihun Muslim, Fiqh Ekonomi., hal. 135)   

Memudahkan dalam pemetaan pendapat antara kedua kelompok yang berbeda pendapat di atas, dapat dilihat dalam bagan berikut.
Tabel 2. Illat Hukum Riba
JENIS RIBA
ILLAT HUKUMNYA
CARA TRANSAKSI DAN JENIS BARANGNYA
Riba nasi'ah
Modernis: Dzulm (kedzaliman) Pinjam uang
Pinjam Uang
Neo-Revivalisme: Ziyadah (tambahan) Pinjam uang
Pinjam Uang
Abu Hanifah: setimbang (ittihad al-wazn)
Imam Malik, Syafi'i dan Ahmad: sejenis dalam harga
Tukar (beli) emas dan
perak

Riba fadl
Abu Hanifah: seukuran (ittihad al-kail)
Imam Malik: sejenis (ittihad al-jins) dan
termasuk makanan
Ahmad: makanan dengan syarat bisa
ditimbang dan diukur
Tukar (beli) gandum,
kurma, garam
Sumber: Muslim, 2005: 132
Perbedaan-perbedaan di atas umumnya disebabkan oleh beragamnya interpretasi terhadap riba. Kendati riba dalam al-Qur'an dan al-Hadits secara tegas dihukumi haram, tetapi karena tidak diberi batasan yang jelas, sehingga hal ini menimbulkan beragamnya interpretasi terhadap riba. Selanjutnya persoalan ini berimplikasi juga terhadap pemahaman para ulama sesudah generasi sahabat. Bahkan, sampai saat ini persoalan ini (interpretasi riba) masih menjadi perdebatan yang tiada henti.

Pandangan kaum Modern terhadap Riba
 
Kaum modernis memandang riba lebih menekankan pada aspek moralitas atas pelarangannya, dan menomor-duakan "legal-form" riba, seperti yang ditafsirkan dalam fiqh. Mereka (kaum modernis) adalah Fazlur Rahman (1964), Muhammad Asad (1984), Sa'id al-Najjar (1989), dan Abd al-Mun'im al-Namir (1989). 

Menurut Muhammad Asad: Garis besarnya, kekejian riba (dalam arti di mana istilah digunakan dalam al-Qur'an dan dalam banyak ucapan Nabi SAW) terkait dengan keuntungan-keuntungan yang diperoleh melalui pinjaman-pinjaman berbunga yang mengandung eksploitasi atas orang-orang yang berekonomi lemah orang-orang kuat dan kaya…dengan menyimpan definisi ini di dalam benak kita menyadari bahwa persolan mengenai jenis transaksi keuangan mana yang jatuh ke dalam kategori riba, pada akhirnya, adalah persoalan moralitas yang sangat terkai dengan motivasi sosio-ekonomi yang mendasari hubungan timbal-balik antara si peminjam dan pemberi pinjaman (Lihat juga di Abdullah Saeed, 1996:42). 

Menurut pemikir modern yang lain adalah Abdullah Yusuf Ali, beliau mendefiniskan riba adalah: Tidak dapat disangsikan lagi tentang pelarangan riba. Pandangan yang biasa saya terima seakan-akan menjelaskan, bahwa tidak sepantasnya memperoleh keuntungan dengan menempuh jalan perdagangan yang terlarang, di antaranya dengan pinjam meminjam terhadap emas dan perak serta kebutuhan bahan makanan meliputi gandum, gerst (seperti gandum yang dipakai dalam pembuatan bir), kurma, dan garam. Menurut pandangan saya seharusnya larangan ini mencakup segala macam bentuk pengambilan keuntungan yang dilakukan secara berlebih-lebihan dari seluruh jenis komoditi, kecuali melarang pinjaman kredit ekonomi yang merupakan produk perbankan modern. 

Sedangkan Fazlur Rahman berpendapat bahwa riba:Mayoritas kaum muslim yang bermaksud baik dengan bijaksana tetap berpegang teguh pada keimanannya, menytakan bahwa al-Qur'an melarang seluruh bunga bank. (menanggapi penjelasan tersebut) sedih rasanya   pemahaman   yang   mereka  dapatkan dengan cara mengabaikan bentuk riba yang bagaimanakah yang menurut sejarah dilarang, mengapa al-Qur'an mencelanya sebagai perbuatan keji dan kejam mengapa menganggapnya sebagai tindakan eksploitatif serta melarangnya, dan apa sebenarnya fungsi bunga bank pada saat ini. Bagi kaum modernis tampak dengan jelas bahwa apa yang   diharamkan adalah adanya eksploitasi atas orang-orang miskin, bukan pada konsep bunga itu sendiri   (legal-form) menurut hukum Islam, apa yang diharamkan adalah tipe peminjaman yang berusaha mengambil untung dari penderitaan orang lain.

Terima kasih teman-teman atas kunjungannya, Insyaallah dua hari lagi kita akan bahas lanjutan topik riba ini, semoga ada manfaatnya. Amin.

Keluarga dan Upaya Penguatan Basis Pendidikan Anak

Keluarga merupakan basis pendidikan pertama dan utama bagi setiap anak (Hasbi Wahy, 2012: 245) . Melalui   lingkungan keluarga, maka aka...