Thursday, January 25, 2018

Ragam atau Macam-macam Riba

Assalamu'alaikum Wr Wb

Semoga kita senantiasa selalu diberikan taufiq dan hidayah oleh Allah SWT Sang Memiliki Alam Semesta ini, Amin3.

Sesuai dengan janji saya, maka hari ini kita akan coba sedikit mengkaji mengenai Ragam atau Macam-Macam Riba. Tulisan ini pada dasarnya merupakan lanjutan dari tulisan sebelumnya yang dapat teman-teman lihat di http://www.harjonidesky.com/2018/01/riba-dalam-sistem-keuangan-dari.html


Pada dasarnya riba terbagi menjadi dua macam yaitu riba akibat hutang piutang yang telah dijelaskan tentang keharamannya dalam al-Qur'an, dan riba jual beli yang juga telah dijelaskan boleh dan tidaknya dalam bertransaksi dalam as-Sunnah.
a.    Riba akibat hutang-piutang disebut Riba Qard, yaitu suatu manfaat atau tingkat kelebihan tertentu yang disyaratkan terhadap yang berhutang (muqtarid), dan Riba Jahiliyah, yaitu hutang yang dibayar dari pokoknya, karena si peminjam tidak mampu membayar hutangnya pada waktu yang ditetapkan (lihat pada Muhammad SyafiĆ­ Antonio, 1999:77-78) 
b.    Riba akibat jual-beli disebut Riba Fadl, yaitu pertukaran antar barang sejenis dengan kadar atau takaran yang berbeda dan barang yang dipertukarkan termasuk dalam jenis barang ribawi.
c.    Dan Riba Nasi'ah, yaitu penangguhan atas penyerahan atau penerimaan jenis barang ribawi yang diperlukan dengan jenis barang ribawi lainnya. Riba nasi'ah muncul dan terjadi karena adanya perbedaan, perubahan, atau tambahan antara yang diserahkan saat ini dan yang diserahkan kemudian (Lihat pada Tim Pengembangan Syari'ah institut bankir Indonesia, Konsep, Produk dan Implementasi Operasional Bank Syari'ah, Djambatan, 2002 hal. 39-40)
Tabel 1. Tipologi Riba Menurut Abu Zahrah dan Yunus al-Mishri

RIBA
TRANSAKSI
JENIS
UNSUR-UNSUR
KETERANGAN
Pinjam Meminjam
Riba Nasi'ah
Penundaan dan Tambahan
Sepakat tentang
haramnya jika dzulm
dan eksploitatif
Jual Beli
Riba Nasa'
Riba Fadl
Penundaan dan Tambahan
Masih ihtilaf
Sumber: Muslim, 2005: 132
 
Riba nasi'ah dalam definisi sebagaimana yang dipraktekkan masyarakat Arab Jahiliyyah dengan ciri utama berlipat ganda dan eksploitatif telah disepakati keharamannya oleh para ulama. Sementara yang kini menjadi perdebatan adalah riba nasi'ah yang tidak berlipat ganda dan dalam taraf tertentu dipandang tidak eksploitatif, sebagaimana yang banyak diperbincangkan mengenai bunga bank (interest). Sementara pada riba fadl masih diperdebatkan hukumnya di antara ulama dan cendekiawan Muslim. Hassan merupakan salah satu ulama yang tidak setuju dengan pengharamannya dengan berbagai alasan. 

Pakar Tafsir yang membolehkan riba fadl adalah at-Thabari (w.310 H0. Sedangkan tokoh sahabat dan tabi'in yang membolehkan riba fadl adalah Ibn Abbas (w.68 H0, Ibn Umar (w.73 H), Zaid bin Arqam (w. 66 H), Usamah bin Zaid (w. 54 H), Urwah bin Zubair (w. 94 H), Ikrimah (w. 105 H), ad-Dhahhak (w.105 H), dan Sa'id Ibn Musayyab (w. 94 H0. Alasan para ulama ini adalah hadits "Bahwasanya riba itu hanya pada riba nasi'ah". Menurut para ulama ini (Ridho, 1374 H; 113-114), riba fadl itu adalah kelebihan harga transaksi barang sejenis bukan karena penundaan atau penyegeraan pembayaran.  

Riba yang haram menurut mereka adalah riba yang mengandung tambahan karena ada penundaan waktu (nasi'ah). Namun demikian, ulama mutaqaddimin pada umumnya sepakat tentang keharamannya. Para ulama tidak sepakat tentang apakah selain yang enam itu ada yang termasuk barang ribawi atau tidak. Golongan Dhahiriyah berpendapat bahwa riba itu hanya terjadi pada enam barang tersebut, sementara empat imam madzhab fiqh berpendapat bahwa barang ribawi tidak hanya enam barang yang disebutkan dalam hadits tersebut, tetapi termasuk juga barang lain yang sejenis atau memiliki 'illat yang sama (Lihat pada Muslihun Muslim, Fiqh Ekonomi., hal. 135)   

Memudahkan dalam pemetaan pendapat antara kedua kelompok yang berbeda pendapat di atas, dapat dilihat dalam bagan berikut.
Tabel 2. Illat Hukum Riba
JENIS RIBA
ILLAT HUKUMNYA
CARA TRANSAKSI DAN JENIS BARANGNYA
Riba nasi'ah
Modernis: Dzulm (kedzaliman) Pinjam uang
Pinjam Uang
Neo-Revivalisme: Ziyadah (tambahan) Pinjam uang
Pinjam Uang
Abu Hanifah: setimbang (ittihad al-wazn)
Imam Malik, Syafi'i dan Ahmad: sejenis dalam harga
Tukar (beli) emas dan
perak

Riba fadl
Abu Hanifah: seukuran (ittihad al-kail)
Imam Malik: sejenis (ittihad al-jins) dan
termasuk makanan
Ahmad: makanan dengan syarat bisa
ditimbang dan diukur
Tukar (beli) gandum,
kurma, garam
Sumber: Muslim, 2005: 132
Perbedaan-perbedaan di atas umumnya disebabkan oleh beragamnya interpretasi terhadap riba. Kendati riba dalam al-Qur'an dan al-Hadits secara tegas dihukumi haram, tetapi karena tidak diberi batasan yang jelas, sehingga hal ini menimbulkan beragamnya interpretasi terhadap riba. Selanjutnya persoalan ini berimplikasi juga terhadap pemahaman para ulama sesudah generasi sahabat. Bahkan, sampai saat ini persoalan ini (interpretasi riba) masih menjadi perdebatan yang tiada henti.

Pandangan kaum Modern terhadap Riba
 
Kaum modernis memandang riba lebih menekankan pada aspek moralitas atas pelarangannya, dan menomor-duakan "legal-form" riba, seperti yang ditafsirkan dalam fiqh. Mereka (kaum modernis) adalah Fazlur Rahman (1964), Muhammad Asad (1984), Sa'id al-Najjar (1989), dan Abd al-Mun'im al-Namir (1989). 

Menurut Muhammad Asad: Garis besarnya, kekejian riba (dalam arti di mana istilah digunakan dalam al-Qur'an dan dalam banyak ucapan Nabi SAW) terkait dengan keuntungan-keuntungan yang diperoleh melalui pinjaman-pinjaman berbunga yang mengandung eksploitasi atas orang-orang yang berekonomi lemah orang-orang kuat dan kaya…dengan menyimpan definisi ini di dalam benak kita menyadari bahwa persolan mengenai jenis transaksi keuangan mana yang jatuh ke dalam kategori riba, pada akhirnya, adalah persoalan moralitas yang sangat terkai dengan motivasi sosio-ekonomi yang mendasari hubungan timbal-balik antara si peminjam dan pemberi pinjaman (Lihat juga di Abdullah Saeed, 1996:42). 

Menurut pemikir modern yang lain adalah Abdullah Yusuf Ali, beliau mendefiniskan riba adalah: Tidak dapat disangsikan lagi tentang pelarangan riba. Pandangan yang biasa saya terima seakan-akan menjelaskan, bahwa tidak sepantasnya memperoleh keuntungan dengan menempuh jalan perdagangan yang terlarang, di antaranya dengan pinjam meminjam terhadap emas dan perak serta kebutuhan bahan makanan meliputi gandum, gerst (seperti gandum yang dipakai dalam pembuatan bir), kurma, dan garam. Menurut pandangan saya seharusnya larangan ini mencakup segala macam bentuk pengambilan keuntungan yang dilakukan secara berlebih-lebihan dari seluruh jenis komoditi, kecuali melarang pinjaman kredit ekonomi yang merupakan produk perbankan modern. 

Sedangkan Fazlur Rahman berpendapat bahwa riba:Mayoritas kaum muslim yang bermaksud baik dengan bijaksana tetap berpegang teguh pada keimanannya, menytakan bahwa al-Qur'an melarang seluruh bunga bank. (menanggapi penjelasan tersebut) sedih rasanya   pemahaman   yang   mereka  dapatkan dengan cara mengabaikan bentuk riba yang bagaimanakah yang menurut sejarah dilarang, mengapa al-Qur'an mencelanya sebagai perbuatan keji dan kejam mengapa menganggapnya sebagai tindakan eksploitatif serta melarangnya, dan apa sebenarnya fungsi bunga bank pada saat ini. Bagi kaum modernis tampak dengan jelas bahwa apa yang   diharamkan adalah adanya eksploitasi atas orang-orang miskin, bukan pada konsep bunga itu sendiri   (legal-form) menurut hukum Islam, apa yang diharamkan adalah tipe peminjaman yang berusaha mengambil untung dari penderitaan orang lain.

Terima kasih teman-teman atas kunjungannya, Insyaallah dua hari lagi kita akan bahas lanjutan topik riba ini, semoga ada manfaatnya. Amin.

No comments:

Post a Comment

Silahkan jika anda yang ingin komentar, namun tolong gunakan bahasa yang sopan

NKRI Bersyariah, Perlukah?

Tulisan Denny JA terkait dengan “NKRI Bersyariah atau Ruang Publik yang Manusiawi?” pada Link: http://pwi.or.id/index.php/berita-pwi/111...