Friday, February 9, 2018

Bunga (Interest)


Assalamuálaikum Wr Wb
Semoga teman-teman sehat selalu. Malam ini saya ingin membahas lanjutan diskusi kita terkait dengan riba. Pada kesempatan kali ini, kita akan sedikit mendalami mengenai Bunga Bank (Interest). Untuk menyegarkan kembali ingatan kita mengenai riba, mari kita lihat terjemahan bahasa inggris terkait dengan riba.
Riba sering diterjemahkan dalam bahasa Inggris sebagai "usury" yang artinya the act of lending money at exorbitant or illegal rate of interest (Wirdyaningsih, 2005: 25). Definisi lain dalam Oxford English Dictionary diartikan sebagai the fact or practice of lending money at interest; especially in later use, the practice of charging, taking or contracting to receive, excessive or illegal rate of interest for money for loan. Dalam the Legal Encyclopedia for Home and Business didefinisikan sebagai an excess over the legal rate charged the borrower for the use of money. 
Secara etimologis, bunga dalam The American Heritage Dictionary of the English Language didefinisikan sebagai interest is a charge for a financial loan, usually a percentage of the amount loaned.  Definisi senada dapat ditemukan dalam Oxford English Dictionary diartikan sebagai money paid for use of money lent (the principal) or for forbearance of a debt, according to a fixed ratio (rate per cent). Sedangkan dalam the Legal Encyclopedia for Home and Business didefinisikan sebagai compensation for use of money which is due. 
Sejarah ekonomi Eropa dibedakan antara “usury” dan “interest”. Usury didefinisikan sebagai kegiatan meminjamkan uang “where more is asked than is given”. Kata “usury” berasal dari bahasa Latin “usura” yang berarti “use” berarti menggunakan sesuatu. Dengan demikian, usury adalah harga yang harus dibayar untuk menggunakan uang. Sedangkan kata “interest” berasal dari bahasa Latin “intereo” yang berarti untuk kehilangan “to be lost”. Sebagian lain mengatakan bahwa interest berasal dari bahasa Latin “interesee” yang berarti datang di tengah (to come in between) yaitu kompensasi kerugian yang muncul di tengah transaksi jika peminjam tidak mengembalikan sesuai waktu (compensation or penalty for delayed repayment of a loan).
Pada perkembangan selanjutnya, “interest” bukan saja diartikan sebagai ganti rugi akibat keterlambatan pembayaran hutang, tetapi diartikan juga sebagai ganti rugi atas kesempatan yang hilang (opportunity loss). Dari definisi ini, terlihat jelas bahwa "interest" dan "usury" yang kita kenal saat ini pada hakikatnya adalah sama.
Keduanya berarti tambahan uang, umumnya dalam prosentase. Istilah"usury" muncul karena belum mapannya pasar keuangan pada zaman itu sehingga penguasa harus menetapkan suatu tingkat bunga yang dianggap "wajar". Namun setelah mapannya lembaga dan pasar keuangan, kedua istilah itu menjadi hilang karena hanya ada satu tingkat bunga di pasar sesuai dengan hukum permintaan dan penawaran.
a. Kritik Terhadap Teori-Teori Bunga
Bunga dalam sistem ekonomi kapitalis merupakan unsur yang sangat penting. Bahkan dapat dikatakan bahwa darah perekonomian sistem kapitalis adalah bunga. Namun ternyata, berbagai teori bunga tidak mampu menjelaskan secara pasti apakah bunga diperlukan dalam suatu perekonomian atau apakah bunga berperan mendorong investasi nyata dan bukan mendorong untuk berspekulasi. Untuk itu perlu dilakukan analisis secara mendalam terhadap teoriteori bunga.
Secara umum, perkembangan teori bunga dapat dikelompokkan menjadi 2 (dua), yaitu Teori Bunga Murni (Pure Theory of Interest) dan Teori Bunga Moneter (Monetary Theory of Interest). Para pakar ekonom yang mendukung kelompok teori pertama diantaranya adalah Adam Smith dan David Ricardo, mereka sebagai penganut Teori Bunga Klasik (Classical Theory of Interest), N.W. Senior pelopor Teori Bunga Obstinence (Abstinence Theory of Interest), Marshall sebagai pelopor Teori Bunga Produktivitas (Productivity Theory of Interest) dan Bohm Bawerk, pelopor teori bunga Austria (Austrian Theory of Interest). Sementara itu, pendukung kelompok teori kedua adalah A. Lerner sebagai pelopor The Loanable Funds Theory of Interest dan Keynes pelopor teori bunga keseimbangan kas (Keynesian Theory of Interest). 
Sementara dalam khasanah ekonomi klasik, tokoh yang terkenal adalah Adam Smith dan David Ricardo. Penganut teori bunga klasik memandang bahwa bunga sebagai kompensasi yang dibayarkan kepada pemberi pinjaman oleh peminjam sebagai jasa atas keuntungan yang diperoleh dari uang pinjaman. Oleh karena itu, bunga sebagai harapan balas jasa atas tabungan. Karena orang tidak akan menabung tanpa adanya harapan balas jasa tabungan, sehingga teori bunga ini berpandangan bahwa ekonomi tanpa bunga tidak mungkin bisa berjalan. 
Selain itu, Adam Smith dalam Rahman  memandang masalah bunga sebagai suatu masalah harga khusus dan menekankan pentingnya bunga dengan 2 (dua) landasan, yaitu (1) untuk membangkitkan supply modal yang cukup; dan (2) karena pentingnya keuntungan yang memungkinkan berkelanjutannya modal. Namun ternyata, teori ini memiliki beberapa kelemahan, diantaranya adalah tidak setiap penabung berniat meminjamkan uangnya, sehingga tanpa bunga orang juga bersedia untuk menabung, dan bank ketika meminjamkan uang sama sekali tidak logis dikatakan sebagai pengorbanan.
Sementara itu, teori bunga abstinence yang dipelopori oleh Senior berpandangan bahwa bunga adalah harga yang dibayarkan sebagai tindakan menahan nafsu (abstinence). Menurutnya, tindakan menahan nafsu ini merupakan tindakan untuk tidak mengkonsumsi atau melakukan kegiatan produksi sehingga jika seseorang meminjam uang kepada orang lain, maka ia harus membayar sewa atas uang yang dipinjamnya.
Teori ini dikritik dengan alasan bahwa penderitaan akibat pengorbanan "tahan nafsu" berbeda menurut tingkat pendapatan penabung. Atau dapat saja penabung tidak memilih untuk meminjamkan uangnya agar tabungannya tetap likuid. Dengan demikian tidak ada alasan baginya untuk mendapat bunga.  Pandangan Marshall sebagai pelopor teori bunga produktivitas berbeda dengan pendahulunya.
Teori ini memperlakukan produktivitas sebagai suatu kekayaan yang terkandung dalam kapital dan produktivitas kapital tersebut dipengaruhi oleh suku bunga. Suku bunga itu sendiri ditentukan oleh interaksi kurva penawaran dan permintaan tabungan. Jika penawaran tabungan lebih besar dari permintaan tabungan, maka suku bunga akan turun dan investasi akan meningkat. Sebaliknya, jika permintaan tabungan lebih besar dari penawaran tabungan, maka suku bunga akan naik dan investasi akan turun. 
Kritik terhadap Smith, Ricardo dan Senior dapat juga dipakai untuk menunjukkan kelemahan teori Marshall. Sekarang disadari bahwa yang menjamin keseimbangan antara tabungan dan investasi adalah tingkat pendapatan, bukan suku bunga. Perubahan tingkat suku bunga pengaruhnya sangat kecil terhadap tabungan.
Peningkatan atas tabungan tidak selalu diikuti oleh peningkatan atas investasi atau dapat dikatakan bahwa investasi tidak dipengaruhi oleh tinggi rendahnya tingkat suku bunga. Hal ini bisa dibuktikan bahwa dalam kondisi depresi, misalnya, meskipun terjadi penurunan tingkat suku bunga, tetapi fakta menunjukkan bahwa investasi tidak meningkat. Oleh karena itu, pendapat yang mengatakan bahwa tingkat suku bunga ditentukan oleh produktivitas kapital adalah alasan yang berputar-putar karena produktivitas kapital itu sendiri ditentukan oleh tingkat suku bunga.
Sementara Bohm Bawerk telah mengembangkan teori bunga yang mirip dengan teori yang dikembangkan oleh Senior. Pelopor teori bunga Austria atau time preference theory ini berpendapat bahwa produktivitas marginal barang sekarang lebih tinggi daripada produktivitas marginal barang untuk masa yang akan datang. Teori ini digeneralisasi atas dasar pandangan psikologis yang sangat subyektif sehingga membuat pemahaman akan teori bunga menjadi salah kaprah.
Pertama, sebagian besar masyarakat menabung bukan atas pertimbangan agar tabungannya pada masa mendatang akan lebih banyak dibanding dengan waktu sekarang, melainkan untuk tujuan tertentu, seperti sekolah, perkawinan, masa pensiun, dan sebagainya. Kedua, masyarakat menengah ke atas melakukan pemupukan kekayaan dengan tujuan untuk prestise dan kedudukan sosial, jadi bukan karena produktivitas marginal barang sekarang lebih tinggi daripada barang untuk masa yang akan datang.
Beberapa dari uraian di atas menunjukkan bahwa tidak ada satupun teori bunga murni yang mampu menjelaskan dan membuktikan bahwa bunga diperlukan dalam suatu aktivitas ekonomi. Sebagian orang kemudian berpaling ke teori bunga moneter untuk mencoba menjelaskan bagaimana penentuan tingkat bunga meskipun mereka tidak memiliki dasar yang kuat tentang definisi bunga itu sendiri. Sedangkan pandangan kelompok teori kedua, yaitu teori Bunga Moneter, diantaranya adalah Lerner yang menggagas the loanable funds theory. Teori ini berangkat dari konsep bunga yang berasal dari tabungan dan investasi. Teori ini berpandangan bahwa bunga ditentukan oleh interaksi penawaran dan permintaan akan dana pinjaman.
Sedangkan teori bunga Keynes berpendapat bahwa tingkat bunga ditentukan oleh permintaan dan penawaran akan uang. Oleh karena itu, Keynesian meyakini bahwa tabungan dan investasi selalu sama nilainya (seimbang). Aliran pertama tidak sependapat dengan hal ini. Menurutnya, mengasumsikan tabungan yang direncanakan akan selalu sama dengan investasi yang direncanakan adalah tidak berdasar. Menurut mereka, suku bunga ditentukan oleh harga kredit dan karena itu diatur oleh interaksi penawaran dan permintaan modal. Teori ini dianggap rancu, karena analisisnya mencampuradukkan antara pengertian persediaan (stock) dengan aliran (flow).
Pemikiran teori bunga moneter terakhir dilakukan oleh Keynes. Ia memandang bahwa bunga bukan sebagai harga atau balas jasa atas tabungan, tetapi bersifat pembayaran untuk pinjaman uang. Secara umum teori bunga moneter memandang bahwa pembayaran bunga sebagai tindakan opportunitas untuk memperoleh keuntungan dan tindakan meminjamkan uang. Oleh karena itu, Keynes menyebutnya sebagai motif spekulasi. Motif ini didefinisikan sebagai usaha untuk menjamin keuntungan di masa yang akan datang. Dalam teori ini, aktivitas spekulasi yang dilakukan pelaku ekonomi akan mempengaruhi suku bunga dan silih berganti, dan akhirnya akan mempengaruhi investasi, tingkat produksi dan kesempatan kerja. 
Sementara itu, Islam melarang segala bentuk spekulasi karena aktivitas dapat dikategorikan sebagai maysir (gambling). Jika dicermati, beberapa teori bunga di atas, baik dari kelompok teori bunga murni maupun teori bunga moneter ternyata memiliki sejumlah kelemahan. Kedua kelompok teori tersebut tidak mampu menjelaskan secara pasti apakah bunga diperlukan dalam suatu perekonomian atau apakah bunga berperan mendorong investasi nyata dan bukan mendorong untuk berspekulasi. Oleh karena itu, gugatan mulai muncul berkenaan dengan teori bunga tersebut sampai akhirnya muncullah tawaran solusi alternatif dengan munculnya teori bagi hasil di perbankan syari'ah.

Keluarga dan Upaya Penguatan Basis Pendidikan Anak

Keluarga merupakan basis pendidikan pertama dan utama bagi setiap anak (Hasbi Wahy, 2012: 245) . Melalui   lingkungan keluarga, maka aka...