Saturday, April 7, 2018

Langkah Bijak Menjadi Orang Tua Hebat bagi Pendidikan Anak


Pendidikan anak di era globalisasi diwarnai berbagai tantangan. Salah satunya adalah kecenderungan penggunaan internet. Data dari Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2016 menunjukkan bahwa pengguna internet di Indonesia dari tahun ke tahun semakin meningkat. Diperkirakan pada tahun 2017, ada sekitar 132,7 juta jiwa pengguna internet, media yang digunakan sebagian besar adalah gawai. Ironisnya, ada sebanyak 34 juta jiwa adalah pelajar. (Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga, 2018).
Besarnya jumlah pengguna internet dari kalangan pelajar patut menarik perhatian kita, terutama para orang tua, dan pihak sekolah. Mengingat, penyalahgunaan internet seperti mengakses konten negatif akan berpengaruh kepada tumbuh kembang anak, dapat mengakibatkan berbagai permasalahan dalam perilaku anak, mulai dari kecanduan game, bullying, dan dapat menurunkan motivasi belajar dan lain sebagainya. Permasalahan tersebut kiranya perlu disikapi dengan meningkatkan peran keluarga dalam pendidikan anak.
Keluarga sebagai unit terkecil dalam masyarakat, namun memiliki pengaruh besar dalam pendidikan anak. Kini, pelibatan keluarga dalam pendidikan anak kembali menemui momentum, dengan harapan dapat mendukung terwujudnya ekosistem pendidikan yang aman, nyaman dan menyenangkan bagi tumbuh kembang anak. Hal ini sesuai dengan Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 30 Tahun 2017 tentang Pelibatan Keluarga pada Penyelenggaraan Pendidikan.
Pentingnya Peran Keluarga dalam Pendidikan Anak
Pentingnya pelibatan keluarga dalam pendidikan anak, telah lama digaungkan oleh Ki Hajar Dewantara, tepatnya sejak tahun 1935. Semangat itu tergambar jelas pada bagian dari Tri Sentra Pendidikan Ki Hajar Dewantara, yaitu: alam keluarga, alam perguruan, dan alam pergerakan pemuda. Pelibatan keluarga dalam pendidikan anak, dapat membantu orang tua menyiapkan pola komunikasi yang sehat. Sebenarnya, pola komunikasi ini telah banyak menjadi sorotan para pakar. Bahkan menurut pakar parenting Adiyati Fathu Roshonah, pola komunikasi menjadi persoalan utama yang harus diperbaiki keluarga.
Perbaikan pola komunikasi sebaiknya dimulai dari kesadaran keluarga/orang tua atas adanya gap (perbedaan) dalam cara mendidik anak. Perbedaan antara mendidik anak zaman sekarang dengan apa yang mereka lalui dahulu. Walau bila diamati, masih ada juga orang tua yang menggunakan cara lama dalam mendidik dan memperlakukan anak, persis sama seperti 30 tahun lalu mereka dididik. Padahal, anak-anak sekarang mengalami percepatan perkembangan dan mudah beradaptasi dengan teknologi informasi dan internet.
Anak zaman sekarang kalau ingin tahu sesuatu bisa langsung mencarinya melalui internet. Dapat dibayangkan, apa yang akan terjadi sekiranya mereka mencari tahu persoalan seksualitas di internet, mengakses laman yang salah, tanpa adanya pengawasan dan bimbingan orang tua? Tentu semua itu sangat berbahaya, mempengaruhi perilaku anak. Bahkan tidak hanya itu saja, anak-anak saat ini nyaris tidak bisa hidup tanpa internet, baru bisa tenang kalau sudah ada wifi. Dilain pihak, peran keluarga mulai tergantikan dengan jejaring sosial. Jejaring sosial mulai dari Facebook, WhatsApp, BBM, dan YouTube menjadi tempat anak-anak mencurahkan segala perasaan senang, sedih dan kekesalan mereka.
Peran keluarga mulai tergeser, keluarga tidak lagi menjadi tempat ideal dan nyaman bagi anak-anak untuk bertukar pikiran, curhat dan bercerita tentang apa yang mereka lalui di sekolah. Kondisi tersebut, semakin parah dengan adanya kenyataan masih banyaknya orang tua yang memperlakukan anak secara keliru. Mereka cenderung hanya menyerahkan anak kepada sekolah untuk dididik, lalu enam bulan kemudian berharap anaknya semakin baik dan menagihnya melalui nilai rapor. Ironisnya, apabila yang terjadi, berbeda dengan harapan orang tua, maka pihak sekolah yang disalahkan atau menjadi sasaran mereka. Padahal, perilaku seperti itu sangat keliru, karena tanggung jawab utama mendidik anak ada pada orang tua.
Orang tua-lah sebagai pihak pertama dan utama yang bertanggungjawab atas keberhasilan pendidikan anak. Terkait dengan pencapaian pendidikan anak, erat hubungannya dengan kerjasama antara guru, orang tua, dan sekolah, dan hal tersebut telah diakui oleh banyak lembaga. Keterlibatan orang tua juga menjadi cerminan dari adanya kesadaran akan pentingnya pelibatan keluarga atas pendidikan anak, sebagaimana yang dikatakan Husain Muzhahiri (2003): ‘hubungan antara keluarga dengan pendidik dan komunitas telah memberi definisi baru pada batasan dan fungsi pendidikan. Hubungan tersebut memperbesar kapasitas orang tua dan komunitas; menciptakan kondisi di mana anak dapat belajar dengan lebih efektif.’
Banyak hasil riset yang menunjukkan bahwa keterlibatan orang tua dalam pendidikan anak memiliki pengaruh positif pada indikator pencapaian pendidikan, seperti: Nilai yang lebih tinggi; keberhasilan pendaftaran ke jenjang yang lebih maju dan lebih tinggi; tingkat drop-out yang lebih rendah; tingkat kelulusan yang lebih tinggi; kemungkinan mendapatkan pendidikan tersier seperti les privat (Fuad Ihsan, 2003). Di balik pencapaian pendidikan tersebut, keterlibatan orang tua juga mampu mempengaruhi indikator perkembangan anak, seperti: kemampuan sosial yang lebih baik; tingkat laku yang meningkat; kemampuan adaptasi di sekolah; kesadaran yang tinggi dalam kompetensi pribadi; keterlibatan dalam kegiatan sekolah; dan kepercayaan yang kuat terhadap pentingnya pendidikan (Milkie et al., 2004).
Orang tua dan keluarga secara keseluruhan memiliki pengaruh penting dalam kehidupan seorang anak. Dukungan mereka dapat memainkan peran vital dalam setiap tahapan pendidikan sianak. Orang tua yang memberikan dukungan dalam pembelajaran anak akan mampu membuat perbedaan prestasi dan tingkah laku si anak (Fuad Ihsan, 2003). Untuk memuwujudkan semua itu, peran keluarga dituntut. Keluarga hendaknya mampu mempraktikkan 5 (lima) langkah strategis, yaitu: pertama, meluangkan waktu untuk anak-anak; kedua, memberikan anak lingkungan yang mendukung di rumah; ketiga, memberikan anak semangat; keempat, menjalin jaringan dengan guru sekolah anak; dan kelima, menyeimbangkan sikap ketika menasihati anak.
Meluangkan Waktu untuk Anak-Anak
Pihak keluarga meluangkan waktu bagi anak-anak mereka di era globalisasi seperti saat ini semakin langka ditemui. Padahal banyak hasil penelitian yang memperlihatkan peran penting dari pola komunikasi. Pola komunikasi antara orang tua dan anak menjadi faktor  primer dalam perkembangan pendidikan anak. Atas dasar itu, meluangkan waktu di sela kesibukan kita demi anak merupakan langkah bijak yang harus dilakukan oleh para orang tua. Jika orang tua terus mengabaikan anak-anak mereka, maka bisa berakibat si-anak akan kehilangan rasa tanggung jawab dan ketertarikan terhadap studinya. Mari, luangkan waktu sebanyak mungkin untuk anak-anak kita, membiasakan berdiskusi dengan anak dari hal-hal kecil sampai dengan mendiskusikan studi mereka setiap hari. Menemani mereka membuat tugas rumah, atau menyediakan waktu untuk mendengarkan cerita-cerita lucu mereka.
Memberikan Anak Lingkungan yang Mendukung di Rumah
Lingkungan rumah dapat memberi pengaruh besar pada kehidupan anak sebagai seorang pelajar. Keluarga harus mampu menciptakan lingkungan penuh kasih sayang antar seluruh anggota keluarga. Menciptakan lingkungan seperti ini juga merupakan perwujudan dari peran keluarga dalam pendidikan moral anak, sekaligus juga cara mendidik anak yang tepat.
Rumah seharusnya menjadi tempat yang aman dan nyaman bagi penghuninya. Namun apa jadinya bila anak-anak lebih senang main di luar rumah atau main di rumah temannya daripada main di rumah. Jangan dulu salahkan si anak, mungkin saja suasana rumah membuat si anak merasa tidak aman, tidak nyaman, dan tidak mendukung aktivitasnya. Bila si anak tidak betah di rumah, bagaimana bisa terjalin kedekatan dengan orang tua atau dengan anggota keluarga lainnya (Yanuar Jatnika, 2018. https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=4710).
Untuk itu, mari kita ciptakan rumah dan lingkungan yang mendukung bagi pendidikan anak kita di rumah. Jangan melakukan aktivitas yang dapat mengalihkan perhatian mereka, terutama disaat mereka sedang belajar seperti: menonton televisi atau kita mendengarkan suara musik dengan keras sementara mereka sedang belajar. Wujudkan dukungan kita minimal dalam bentuk menyediakan tempat yang tenang agar mereka dapat belajar dengan konsentrasi tinggi.
Memberikan Anak Semangat
Orang tua dan keluarga harus memiliki penghargaan yang tinggi kepada anak, baik di saat mereka mendapatkan nilai ujian yang bagus, maupun ketika mereka tidak mendapat hasil yang diinginkan, karena sesungguhnya mereka telah bekerja keras. Dengan menghargai prestasi mereka dalam ujian, mereka akan tetap berusaha untuk mendapat penghargaan lebih. Begitu juga sebaliknya. Menyemangati anak jika mereka gagal, atau mendapat nilai buruk dalam ujian, akan membuat mereka mampu bangkit kembali, dan memulai dengan semangat yang baru. Dengan demikian, kita semua telah mewujudkan cara menjadi orang tua yang baik bagi anak-anak kita.
Menjalin Jaringan dengan Guru Sekolah Anak
Menjalin hubungan yang baik dengan guru sangat penting dilakukan keluarga dan orang tua. Hal ini disebabkan sekolah menjadi rumah kedua bagi anak-anak kita dan para guru menjadi orang tua kedua mereka. Untuk mendukung kondisi tersebut, maka sebaiknya  kita meluangkan waktu untuk berkunjung ke sekolah, dan menanyakan kepada guru mengenai studi anak kita. Walaupun ada beberapa sekolah telah menyiapkan buku penghubung atau komunikasi. Sikap tersebut akan memberikan kita (keluarga) pengetahuan tentang studi yang sedang anak-anak jalani di sekolah. Kita akan mengetahui kelemahan anak kita, juga bagaimana kita dapat membantu anak-anak dalam meningkatkan kemampuan diri mereka. Dengan demikian, kita akan dapat mengetahui cara mendidik anak yang baik.
Menyeimbangkan Sikap ketika Menasihati Anak
Sebagai orang tua, kita harus tetap menyeimbangkan antara perasaan kasih sayang  dengan ketegasan kita. Perlakukan anak-anak kita dengan penuh kasih sayang ketika memberikan nasihat untuk studi mereka, namun perlakukan mereka dengan tegas dan disiplin ketika melarang mereka melakukan sesuatu. Jangan pernah memukul mereka, cukup berikan mereka larangan membuang waktu, atau larangan bersikap tidak sopan, atau menghindari melakukan kegiatan tidak penting. Sehingga anak-anak kita akan paham bahwa mereka harus menuruti kita. Perlu diperhatikan juga jangan sampai sikap kita terlalu keras membuat kita memiliki ciri sebagai orang tua yang protektif terhadap anak. Intinya kita harus mampu menyeimbangkan atau memposisikan diri sesuai dengan kondisi tertentu, misalnya saat kita lagi memberikan nasehat, lagi melarang mereka, lagi menemani mereka bermain dan peran lainnya. Orang tua yang baik adalah orang tua yang bisa menjadi orang tua, guru dan teman bagi anak-anak kita.
Akhirnya, diharapkan dengan melaksanakan 5 (lima) langkah strategis tersebut keluarga dan orang tua dapat medorong kesuksesan pendidikan anak sesuai dengan amanah undang-undang, sekaligus juga mampu membuat anak-anak merasa nyaman berada di tengah-tengah keluarga, karena kita sebagai orang tua selalu ada untuk mereka. Semoga. #Sahabatkeluarga.

Referensi
Departemen Pendidikan Nasional. (2003). Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional, Jakarta: Depdiknas
Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga., 2018. Pedoman Lomba Blog Pendidikan Keluarga. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga.
Ihsan, Fuad., 2003. Dasar-dasar Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta
Jantika, Yanuar., 2018. Ciptakan Rumah yang Bikin Anak Betah. Diakses https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=4710 Tanggal 7- April-2018.
Muzhahiri, Husain., 2003. Pintar Mendidik Anak. Jakarta: Lentera Basritama, 2003
Peraturan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI No. 30 Tahun 2017 tentang Pelibatan Keluarga pada Penyelenggaraan Pendidikan.

No comments:

Post a Comment

Silahkan jika anda yang ingin komentar, namun tolong gunakan bahasa yang sopan

NKRI Bersyariah, Perlukah?

Tulisan Denny JA terkait dengan “NKRI Bersyariah atau Ruang Publik yang Manusiawi?” pada Link: http://pwi.or.id/index.php/berita-pwi/111...