Saturday, June 23, 2018

Menyempurnakan Rebranding Koperasi bagi Generasi Milenial


Harus diakui, suka atau tidak suka, nama, makna, dan peran koperasi dalam kancah perekonomian nasional, belum terlalu popular khususnya di kalangan kaum milenial atau mereka yang lahir pada  kurun akhir 1980-2000an. Sampai-sampai, ada sebuah survei yang menyebutkan bahwa generasi milenial usia 15-34 tahun yang jumlahnya bisa mencapai 60% dari total penduduk Indonesia, tidak paham dan tidak tertarik pada koperasi. Tentu saja, fenomena dan fakta ini menggelitik Menteri Koperasi dan UKM AAGN Puspayoga.
Untuk maksud itu, mantan Wakil Gubernur Bali dan Walikota Denpasar itu pun menggelontorkan program strategis bertajuk Re-Branding Koperasi. Tujuan Re-Branding ini agar generasi muda tahu, paham, dan tertarik berkoperasi. Namun, Puspayoga mengakui, tidak bisa begitu saja mengajak mahasiswa dan generasi milenial lainnya untuk mengenal koperasi dengan cara ceramah, seminar, atau pun workshop. Karena itu, pihak Kemenkop dan UKM sedang merancang cara yang jitu dan tepat, agar Re-Branding koperasi bisa berhasil.
Mengenal Generasi Milenial
Generasi Millennial adalah terminologi generasi yang saat ini banyak diperbincangkan di berbagai bidang, apa dan siapa gerangan generasi millennial itu? Millennials (juga dikenal sebagai Generasi Millenial atau Generasi Y) adalah kelompok demografis (cohort) setelah Generasi X. Peneliti sosial sering mengelompokkan generasi yang lahir diantara tahun 1980-an sampai 2000-an sebagai generasi millennial. Jadi bisa dikatakan generasi millennial adalah generasi muda masa kini yang saat ini berusia dikisaran 15 – 34 tahun.
Di luar negeri, studi tentang generasi millenial sudah banyak dilakukan, khususnya di Amerika, diantaranya studi yang dilakukan oleh Boston Consulting Group (BCG) bersama University of Berkley tahun 2011 dengan mengambil tema American Millennials: Deciphering the Enigma Generation. Sementara, di Indonesia studi dan kajian tentang generasi millennial belum banyak dilakukan, padahal secara jumlah populasi penduduk Indonesia yang berusia antara 15-34 tahun saat ini sangat besar. Dibanding generasi sebelum, generasi millennial memang unik.
Hasil riset yang dirilis oleh Pew Researh Center misalnya secara gamblang menjelaskan keunikan generasi millennial dibanding generasi-generasi sebelumnya. Diantara yang mencolok dari generasi millennial ini dibanding generasi sebelumnya adalah soal penggunaan teknologi (internet), entertainment/hiburan, dan budaya pop/musik. Dalam konteks Indonesia hal yang sama juga terjadi, hasil survei yang dilakukan Alvara Research Center tahun 2014 menunjukkan Generasi yang lebih muda, 15 – 24 tahun lebih menyukai topik pembicaraan yang terkait musik/film, olahraga, dan teknologi.
Sementara generasi yang berusia 25 – 34 tahun lebih variatif dalam menyukai topik yang mereka perbincangkan, termasuk didalamnya sosial politik, ekonomi, dan keagamaan.  Konsumsi internet penduduk kelompok usia 15 – 34 tahun juga jauh lebih tinggi dibanding dengan kelompok penduduk yang usianya lebih tua. Selain itu, wirausaha juga sudah menjadi alternatif kalangan muda dalam berkarya, start-up bisnis bermunculan di berbagai kota. Begitu lulus mereka tidak lagi berburu lowongan pekerjaan, tapi berupaya mencari peluang bisnis dan menjadikan peluang bisnis itu sebagai pintu masuk ke dunia wirausaha. Terkait dengan gaya hidup, mereka memiliki cara tersendiri untuk meluapkan ekspresi mereka, dunia hidup mereka tidak bisa lepas dari hiburan dan teknologi terutama internet.
Koperasi Menyesuiakan Diri  
Generasi milenial ini menjadi generasi yang digadang-gadang menjadi bagian penting dalam perkembangan negara Indonesia. Apalagi jika melihat pada prediksi periode bonus demografi yang pada tahun 2020 s/d 2030, usia produktif lebih banyak dibandingkan usia yang non-produktif. Namun apakah koperasi sadar akan hal ini? Bisa dikatakan saat ini koperasi merupakan barang antik yang perlu dikenalkan ke generasi milenial. Mengingat koperasi saat ini sudah berusia 70 tahun, perlu adanya pembaruan brand dari koperasi agar kembali dikenal oleh generasi tersebut.
Dimulai dari adanya keinginan koperasi untuk dapat menyesuaikan diri dengan era yang dihadapi. Era dimana teknologi dan informasi menjadi komiditi utama dalam pergerakan ekonomi global. Sudah seharusnya koperasi mengembalikan kejayaannya yang pernah ada pada jaman orde baru, dimana koperasi menjadi poros dalam setiap kegiatan ekonomi di perkantoran pemerintah, di setiap desa, bahkan di setiap sekolah. Generasi milenial yang kini terbiasa dengan kecepatan arus informasi menjadi alasan mengapa koperasi perlu berbenah diri, terutama dalam mengimplementasikan teknologi dalam kegiatan koperasi.
Menyempurnakan Rebranding Koperasi bagi Generasi Milenial
Koperasi yang kini hanya dijadikan pelengkap buku pelajaran perlu diubah menjadi sebuah kebutuhan di masyarakat. Terutama dimulai dari sekolah dan perguruan tinggi dimana koperasi perlu menyatukan dirinya ke dalam budaya dan lingkungan generasi milenial. Kebiasaan dari generasi milenial ini perlu dipelajari dan disesuaikan sehingga koperasi bukan lagi menjadi barang yang jadul. Koperasi juga harus mampu bermain dalam gelombang teknologi dan informasi. Oleh karena itu, koperasi perlu memberikan added value yang dibutuhkan oleh anak-anak muda saat ini.
Budaya generasi milenial yang sering membentuk komunitas juga bisa menjadi peluang untuk rebranding koperasi. Acara yang sekedar ngumpul bisa ditambahkan nilainya jika membuat koperasi. Selain menambah keeratan hubungan antar sesama (anggota), kumpulan ini menjadi legal dan bisa dikembangkan untuk usaha yang produktif. Maka tepat jika membuat koperasi bak menyelam sambil minum air.  Untuk itu rebranding koperasi menjadi bagian penting yang harus dilakukan sehingga koperasi tetap hidup dalam pusaran generasi milenial.
Disamping itu, ada dua hal lain yang penting dilakukan dalam rangka menyempurnakan rebranding koperasi bagi generasi milenial, yaitu: pertama, selama ini sudah ada beberapa koperasi sisiwa, atau koperasi mahasiswa (Kopma) atau koperasi organisasi kepemudaan, namun untuk menyempurnakan rebranding koperasi bagi generasi milenial diharapkan Kementerian Koperasi dan UKM dapat memberikan perlindungan dan perhatian kepada kopasi siswa, Kopma, dan koperasi organisasi kepemudaan, ketika ada kebijakan yang berpotensi kurang baik terhadap perkembangan mereka. Karena, sering terjadi masalah kebijakan dari instansi sekolah, kampus dan oranisasi kepemudaan sebagian besar cenderung memberikan dampak yang kurang baik terhadap kemajuan koperasi tersebut.
 Kedua, Kemenkop dan UKM telah menggulirkan konsep rebranding koperasi bagi generasi milenial. Ini upaya bagus untuk merehabilitasi kembali gerakan koperasi agar tidak ditinggalkan anak-anak muda. Untuk mengakomodir hal ini maka perlu langkah perbaikan regulasi. Undang-Undang (UU) No. 25 Tahun 1992 sudah tidak memadai untuk memberikan stimulasi daya tarik bagi pengembangan koperasi bagi generasi milenial di Tanah Air. Contoh paling kongkrit adalah mengenai keanggotaan koperasi.
Menurut UU untuk mendirikan koperasi itu diperlukan 20 orang sebagai syarat awal. Akibatnya, anak-anak muda yang mau memulai bisnis menggunakan jalur koperasi tidak muncul. Mereka yang sudah aktif di Koperasi Mahasiswa (Kopma) waktu masih kuliah juga pada akhirnya tidak mau mengembangkan koperasi karena hambatan ini. Padahal, di luar negeri untuk mendirikan bisnis koperasi itu hanya perlu 2 orang saja. Ini juga diatur dalam International Co-operative Law Guidance. Maka idealnya dalam RUU koperasi yang sedang dibahas di parlemen harus mengakomodir hal ini. Semoga.

Keluarga dan Upaya Penguatan Basis Pendidikan Anak

Keluarga merupakan basis pendidikan pertama dan utama bagi setiap anak (Hasbi Wahy, 2012: 245) . Melalui   lingkungan keluarga, maka aka...