Tuesday, August 14, 2018

Keluarga dan Upaya Penguatan Basis Pendidikan Anak


Keluarga merupakan basis pendidikan pertama dan utama bagi setiap anak (Hasbi Wahy, 2012: 245). Melalui  lingkungan keluarga, maka akan tercipta pembentukan kepribadian yang harmonis. Ini dibuktikan di awal masa pertumbuhan seorang anak yang lebih banyak dihabiskan di dalam lingkungan keluarga. Disinilah mereka mengalami proses pendidikan yang pertama dan utama. Maka, segala perilaku keluarga, terutama kedua orang tua, baik lisan dan perbuatan, maupun yang bersifat pengajaran, keteladanan dan kebiasaan sosial lainnya, akan mempengaruhi pola perkembangan perilaku anak selanjutnya. Oleh karena itu, orang tua disini dituntut harus mampu menanamkan pendidikan yang baik dan benar kepada anak sejak usia dini. Dengan harapan, akan tercipta atau berkembang perilaku si anak yang mencerminkan kepribadian yang luhur, bermanfaat bagi dirinya sendiri, agama, keluarga juga masyarakat dan bangsanya.
Menurut Fuad Ihsan (1997:94) orang tua memiliki rangkaian tanggung jawab atas pendidikan  anak-anaknya, diantaranya: pertama, menjaga dan membesarkan anak-anak; kedua, memberikan perlindungan dan jaminan kesehatan; ketiga, memberikan pendidikan, pengetahuan, dan keterampilan yang berguna bagi kehidupan mereka kelak; dan keempat, memberikan pendidikan agama kepada anak sesuai dengan tuntunan Allah dalam rangka mencapai tujuan akhir hidup muslim yang bahagia (bahagia di dunia dan akhirat). Guna merealisasikan tanggung jawab orang tua dalam pendidikan, maka diperlukan upaya strategis, antara lain: pertama, perlunya kesadaran dan tanggung jawab orang tua atas pendidikan dan pembinaan anak secara kontiniu; kedua, perlu adanya pembekalan bagi orang tua mengenai bagaimana cara mendidik anak; dan ketiga, orang tua perlu ditingkatkan ilmu dan  keterampilannya sebagai pendidik pertama  dan utama bagi anak-anaknya, dengan cara belajar terus menerus.
Tantangan dalam Mendidik Anak
Upaya pelaksanaan pendidikan anak yang Islami dan berkualitas, maka tidak akan terhindar dari berbagai rintangan dan tantangan yang akan dihadapi. Namun, semua tantangan tersebut, sudah sepantasnya tidak menjadi suatu halangan untuk mendidik anak-anak secara Islami. Melainkan harus mampu dimaknai sebagai hiasan dalam perjuangan, sehingga melahirkan dorongan untuk lebih serius dan mencari berbagai cara yang tepat dalam mendidik anak-anak. Bila ingin memetakan tantangan dalam pendidikan anak, maka kita dapat membaginya kepada dua tantangan, yaitu tantangan yang berasal dari dalam (intern) dan dari luar (ekstern). (Yanuar Jatnika, 2018.   https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=4710).
Kedua tantangan ini saling mempengaruhi dalam upaya pendidikan anak. Sumber tantangan intern yang utama adalah orang tua si anak itu sendiri.  Banyak orang tua yang kurang bahan dan tidak memahami bagaimana cara  mendidik anak. Keadaan akan bertambah rumit bila keharmonisan rumah tangga terganggu. Padahal anak membutuhkan tempat berlindung yang aman bagi  perkembangan fisik, jiwa dan pemikirannya. Tantangan lain bisa berasal dari anggota keluarga. Orang tua mungkin  sudah berusaha mendidik anak dengan sebaik-baiknya, namun intervensi dari anggota keluarga bisa merusak suasana. Kasus yang umum terjadi adalah sikap kakek dan nenek yang selalu memanjakan si anak. Akibatnya anak menjadi lebih  dekat kepada kakek dan nenek, dan menganggap orang tuanya terlalu membatasi dirinya. Demikian juga halnya antara ayah dan ibu. Sering terjadi ketika seorang ayah menegur si anak karena melakukan suatu perbuatan yang tidak benar, maka ibu tampil sebagai pembela, atau sebaliknya, akibatnya si anak merasa mendapat pembelaan dan dukungan, sehingga anak merasa mendapat “pengesahan” untuk  mengulangi perbuatannya.
Tantangan ekstern lebih luas lagi cakupannya. Berbagai informasi akan mempengaruhi perkembangan anak dari berbagai sisi. Tantangan pertama bersumber dari lingkungan masyarakat. Interaksi anak dengan lingkungannya  tidak dapat dielakkan, anak membutuhkan teman bermain dan kawan sebaya yang  dapat diajak berbicara. Sedikit banyak, informasi yang diterimanya akan terekam. Lingkungan rumah yang jauh dari nilai-nilai Islam bisa melunturkan pendidikan yang ditanamkan di rumah. Kita sebagai orang tua mungkin pernah terkejut ketika melihat anak-anak kita mulai menyukai gawai (game online) dengan gawai atau HP kita. Lalu, setelah diselidiki ternyata anak tersebut meniru game online yang dimainkan oleh teman sebayanya. Proses penyerapan informasi ini sering dialami oleh anak-anak yang belum mengerti apa-apa. Mereka cepat sekali meniru berbagai hal baik yang mereka lihat, maupun yang  didengarnya.
Lingkungan sekolah bisa menjadi sumber tantangan kedua. Bagaimanapun guru-guru di sekolah tidak akan mampu mengawasi anak didiknya setiap saat. Interaksi anak dengan teman-temannya di sekolah yang memiliki perilaku yang bervariasi, apabila tidak dipantau dengan baik oleh guru sebagai penanggung jawab pendidikan sekolah, bisa berdampak negatif. Perkelahian pelajar adalah salah satu contoh ekses dari dampak negatif tersebut. Tantangan ekstern selanjutnya adalah yang berasal dari media massa. Media  massa menjadi sumber tantangan yang sangat sulit diantisipasi. Informasi yang dilemparkan media
massa, baik cetak maupun elektronik, memiliki daya tarik yang kuat. Apabila tidak ada pengarahan dari orang tua, anak akan menyerap semua informasi tanpa terkendali. Tidak ada lagi batasan umur penonton untuk setiap acara yang ditayangkan televisi.
Akibatnya, ragam tanyangan itu dengan mudah dapat dikonsumsi oleh semua golongan umur. Ditambah lagi perkembangan teknologi, dan media gawai yang boleh dikatakan hampir semua anak memilikinya. Bahkan hanya, dengan modal 25 ribu mereka bisa membeli paket data dan bisa membuka berbagai situs di dunia maya, baik positif maupun yang negatif. Kedua bentuk tantangan ini (dari dalam (intern) dan dari luar (ekstern)) memberikan ilustrasi betapa usaha-usaha mendidik anak secara Islami tidaklah mudah. Namun demikian, bukan berarti tidak ada jalan keluarnya, semuanya sangat tergantung pada kepedulian dan kemauan para orang tua untuk mendidik anak-anaknya agar berakhlaq sesuai dengan nilai-nilai Islami
Peletakan Pondasi Keagamaan
Masa kanak-kanak adalah masa yang paling baik untuk menerapkan dasar-dasar hidup beragama. Untuk membangun kesadaran beragama tersebut, maka anak-anak sejak kecil harus sudah dibiasakan untuk melaksanakan ajaran-ajaran agama, seperti shalat, ikut ke mesjid, menonton acara-acara keagamaan, mendengar lagu-lagu Islami, dan lain-lain. Hasbi Ash-Shiddiqiy mengatakan, bahwa tugas-tugas keagamaan dipupuk terus menerus sampai anak mencapai umur dewasa, sehingga dengan demikian perasaan keagamaan dalam jiwanya benar-benar mendarah daging. Dalam rangka peletakan dasar-dasar keagamaan pada anak, maka perilaku orang tua yang baik, rajin beribadat, rajin ke mesjid, rukun dalam kehidupan rumah tangga, adil dalam membagi kasih sayang antara sesama anak, suka menolong orang lain, setia kepada kawan dan sebagainya, hendaknya rutin dilaksankan atau terus menerus sehingga menjadi contoh teladan yang dapat ditiru dan diamalkan oleh anak sepanjang hidupnya.
Simpulan
Sebagai institusi pertama tempat berlangsungnya proses pendidikan anak, maka orang tua sebagai penanggung jawab pendidikan keluarga harus benar-benar dapat menyikapi kenyataan ini dengan mengkondisikan lingkungan keluarga dengan suasana pendidikan. Pengkondisian ini dilaksanakan melalui pengajaran, pembiasaan dan keteladanan. Dengan adanya pengkondisian ini, diharapkan nantinya anak-anak akan tumbuh dan berkembang menjadi insan kamil yang berguna bagi dirinya sendiri, agamanya, keluarganya dan masyarakatnya, sehingga dia akan menjadi generasi penerus yang berakhlaqul karimah. #Sahabatkeluarga

Referensi
Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga., 2018. Pedoman Lomba Blog Pendidikan Keluarga. Jakarta: Direktorat Pembinaan Pendidikan Keluarga.
Ihsan, Fuad., 2003. Dasar-dasar Kependidikan. Jakarta: Rineka Cipta
Jantika, Yanuar., 2018. Ciptakan Rumah yang Bikin Anak Betah. Diakses   https://sahabatkeluarga.kemdikbud.go.id/laman/index.php?r=tpost/xview&id=4710. Tanggal 7- April-2018.
Muzhahiri, Husain., 2003. Pintar Mendidik Anak. Jakarta: Lentera Basritama, 2003
Wahy, Hasbi. 2012. “Keluarga sebagai Basis Pendidikan Pertama dan Utama” Jurnal Ilmiah Didaktika Vol. XII, No. 2, (Februari 2012):245-258.

Keluarga dan Upaya Penguatan Basis Pendidikan Anak

Keluarga merupakan basis pendidikan pertama dan utama bagi setiap anak (Hasbi Wahy, 2012: 245) . Melalui   lingkungan keluarga, maka aka...